Hari ini adalah hari minggu dan seperti biasanya aku melewatkan malam ini dengan begadang bersama teman teman tanpa terpikir sedikitpun perasaan khawatir tentang apa yang akan terjadi hari esok. Sementara tanganku tengah sibuk memainkan game yang ada di laptop kesayangan di sisi lain otakku terpecah dengan kegelisahan tentang teguran teguran dan pertanda pertanda yang muncul meragukan intuisi yang tajam. Sebagaimana firasat membisikkan suara suara aku masih terjerat dengan keadaan malam yang jauh dari bising tetap hening seperti dunia tengah tertidur separuh aku masih memainkan peranan dalam sandiwara besar ini. Sebuah dunia dimana aku berdiri berlari dan berpikir seperti apa adanya. Tiga atau empat kali langkah yang ada akan selalu menghantarkanku pada rumah tempat aku pulang tempat dimana awal aku melangkahkan kaki dengan arah yang belum menentu. Malam in, tidak seperti malam malam yang lainnya aku melewatkannya dengan bayangan bayangan masa lalu, satu demi satu nampak tergambar jelas dalam bayangan tentang bagaimana aku melukiskan wajah wajah penuh dendam dan amarah. Ah sepertinya di kejauhan tengah terbersit horison horison kecil yang jadi acuan agar aku tak tersesat. Tetapi, nampak makin jauh makin kecil dan makin samar. Inilah tempat aku menuliskan keluh kesah menyandarkan batin yang lelah menunggu dengan jutaan bisikan dan suara suara hening. Aku tak berhenti menorehkan luka demi luka sedangkan aku sendiri tengah lelah menahan pedihnya ditinggalkan dunia. Akankah aku mengejar dunia sementara dunia bukanlah arah yang seharusnya aku tuju. Ataukah salah aku merasakan diriku berada di tengah tengah kehilangan seperti yang orang lain tak pernah membayangkannya sebelumnya. Dunia ini sebuah tempat yang penuh dengan orang orang sepertiku dan lambat laun dunia pun turut mengakuinya sebagai warisan dan wasiat yang kelak dunia akan tinggalkan untuk generasi generasi semacamku yang akan selalu menorehkan hal hal yang sama agar tertinggal pada prasasti prasasti yang akan selalu dikenang oleh orang orang, sementara aku masih terus berceloteh dalam tanah tanah peuburan yang dingin gelap sunyi sepi dn mengerikan. Seperti ruangan kosong yang tak berpenghuni yang tak terdapat satu pun tanda tanda kehidupan di dalamnya dunia yang selalu merindukan terang dari pijar pijar bukan hasil tangan tangan setan yang ta bernyawa menyiratkan bahwa Tuhan telah lama murka. Aku tak ingin... sama sekali tak ingin melihatnya sementara kemurkaan tergantung di wajahnya. Bukankah masih akan selalu ada pilihan setelah ini? Ataukah aku menunggu hal pada tempat yang salah. Hatiku tak berhenti menanyakan seperti hal nya yang ditanyakan oleh orang orang sebelum aku. Tak perlu dicerna tak perlu dipikirkan itulah sebuah pertanyaan yang tak pernah habis dan akan selalu muncul pertanyaan pertanyaan berikutnya. Ah sungguh lelah menunggu dunia, dunia yang tak pernah datang dengan sebenar benarnya keadaan aku masih terus terpikir bahwa inilah tempat lagi dimana aku mengingatnya kembali dan mengenang dari cara memandang dan berbicara, sebuah tempat dimana aku benar benar merasakan kekosongan yang sebelumnya tak pernah aku rasakan seperti ini pedihnya. Menduga dan bergumam, ah sampai dimana harusnya aku mencerna? Masihkah ada arah? Sementara harapan telah aku tebarkan ke seluruh penjuru, tinggal melangkah aku hanya menunggu ....

0 komentar:
Posting Komentar
Private thoughts only