Fase Dua

Absence (ketiadaan)
Saya ingin menerangkan tema ini dengan bagaimana awalnya saya menjadi tertarik terhadap ketiadaan pemaknaan figuratif. Antropologis Meyer Fortes menjelaskan mengenai Tallemsi dari Ghana Utara. Seseorang bisa menyanggahnya mengenai penggunaan terma “seni”. Ia kemungkinan merupakan konsep dari Eropa atau Eurasia yang kita pahami dalam konteks sekolah seni maupun museum seni. Tallensi membuat penilaian termasuk mereka yang kita sebut estetis dalam hubungannya terhadap objek. Jika kita pergi ke museum etnografik, Afrika sering didominasi oleh topeng Liberia yang menakjubkan, patung Dan, perunggu raksasa Benin atau terakota dari Nok. Hampir semua karya tersebut merupakan figuratif, terkadang merepresentasikan binatang, terkadang pula manusia maupun makhluk antromorfik. Dibandingkan dengan karya karya tersebut, Tallensi belum ada apa apanya secara virtual. Merupakan benar adanya beberapa jenis pemaknaan artistik lainnya; mereka tidak punya teater, seperti LoDagaa dan yang tinggal di sekitarnya. Namun LoDagaa mempunyai beberapa patung figuratif dari kayu. Sebuah perbedaan didapat dari distribusi mitos ketimbang mitologi.
Saya mencoba menjelaskan keadaan maupun ketiadaan sebagaimana kilas balik saya mengenai studi tentang penggunaan bunga di bagian dunia berbeda. Dari situlah saya menemukan alasan evolusioner mengapa tidak ada bunga domestik di Afrika. Bunga hanya ter-domestik-kan hanya dalam masyarakat yang memiliki era, yakni apa yang oleh ahli prehistoris Gordon Childe sebut dengan “Revolusi Urban” yang menciptakan agrikultur, sistem penulisan dan bermacam macam kerajinan.
Ketika proses evolusi ini membuka kemungkinan kemungkinan bukan berarti mereka dieksploitasi. Dalam era klasik Eropa Selatan memiliki budaya bunga yang kuat namun ditentang secara dramatis di masa awal Kristen. Disini kami memiliki bukti tidak hanya perbedaan antara budaya dalam ruang namun juga dalam suatu masyarakat pada waktu yang berbeda. Di Eropa, penolakan yang demikian itu dikaitkan dengan invasi barbarian (Celtic dan lainnya) dan diasosiasikan dengan kejatuhan ekonomi. Namun penolakan dalam penggunaan bunga dan item lain dianggap hal yang mengindikasikan kemewahan, hal yang berkaitan dengan kekuatan asing, yang dikehendaki aktornya yang memegang posisi hegemonik. Banyak pemuka agama Kristen mengutuk penggunaan bunga terutama pada bentuk mahkota pada bunga. Alasannya, pertama adalah mereka biasanya menggunakannya pada upacara pengorbanan Pagan. Yang kedua, mereka percaya bahwa Tuhan tidak membutuhkan pemberian. Ketiga, hal hal tersebut merupakan bagian dari budaya kemewahan, budaya konsumerism awal, penekanan status, hirarki dan hal yang tidak diperlukan, dalam kata lain mereka menyebutnya Puritan.
Selama berabad abad hal tersebut telah diubah dalam Kristen Eropa. Butuh waktu yang cukup lama untuk budaya penggunaan bunga agar berkembang dalam maraknya penolakan penolakan tersebut pada abad ke-16 dan ke-17 lebih khususnya pada Puritan. Dalam kata lain, penggunaan bunga ditentang oleh beberapa kalangan masyarakat dalam periode tertentu dalam sejarah mereka.
Menyikapi perbedaan spasial tersebut saya mengatakan sebagaimana Levi-Strauss nyatakan hal yang sama terhadap jamur bahwa beberapa budaya adalah floripobia dan beberapa diantaranya florifil. Namun implikasi yang tak terelakkan seperti karakteristik menjadikan fungsi ini jauh terkubur dalam mentalitas masyarakat tertentu dimana terkadang mereka menjadi florifil dan fungifobia di waktu yang bersamaan. Untuk menganggap fungsi tersebut sebagai bagian dari perilaku manusia yang quasi-permanen, struktur dasar tidak begitu berperan dalam aspek historis kebudayaan. Implikasinya merupaka quasi-genetic. Namun penggunaan bunga tidak terlalu mengakar pada gen kebudayaan, sekalipun fungsi tersebut muncul secara persisten dari masa ke masa.

Maka pertanyaan mendasarnya berubah dari waktu ke waktu mengapa masyarakat atau ritual berubah dari wujud budaya kuat menjadi lemah, penolakan apakah yang menjadi sentral terhadap eksistensi keseluruhan mereka? Contoh yang paling mengejutkan adalah yang terjadi di Eropa dan Yunani yang mendasari banyak kebudayaan dan tradisi intelektual. Adalah abbad kedelapan BCE (Before Common Era) yang melihat awal mula ekspansi Yunani, berkembangnya kota, majunya teknologi penulisan yang kita pahami sebagai yunani Klasik. Yang menjadi penting adalah tidak hanya kualitas melainkan juga kuantitas melalui bahasa tertulis. Khususnya lagi, Yunani dikenang dalam drama yang masih dipentaskan di barat setelah 2500 tahun, terkadang dalam bahasa aslinya, dan lebih banyak lagi dalam bahasa terjemahan. Yunani juga dikenang untuk gaya arsitekturnya yang turut membentuk barat pada gaya arsitektur bank-bank dan perkantoran-perkantoran untuk kuil kuil dan istana. Dan lagi, pada seni patungnya banyak yang menjadi bagian dari ruang sosial yang bertujuan menanamkan ekspresi budaya dalam superfasilitas. 

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Job Jaya

REPRESENTATION AND COGNITIVE CONTRADICTION

Saya tertarik terhadap resistansi atau ketiadaan pemaknaan, gambar, teater, benda purbakala, mitos, novel dan pemaknaan seks. Hal ini seperti pilihan acak dari keseluruhan kemungkinan beserta pada nuansanya. Namun ini termasuk beberapa sentral artistik dan bentuk bentuk religius dari pemaknaan (ikon, teater, novel) yang hadir dalam masyarakat tertentu dan tidak terdapat di masyarakat lainnya yang mendatangkan tanda tanya kepada saya tentang pemaknaan yang sangat alamiah. Saya tidak bermaksud untuk melingkupi keseluruhan pemaknaan dimana ambivalensi bisa timbul namun hal ini menggelitik rasa penasaran saya mengenai perlunya penjelasan secara umum. Saya sengaja mengesampingkan ranah tertentu mengenai penolakan, penekanan atau ketiadaan aktivitas aktivitas ini dalam masyarakat manapun dengan sebuah tanda tanya besar mengenai fitur yang telah menyebarluas ini menerangkan mengenai alam pemaknaan yang merupakan fitur sentral dalam hidup manusia. Apakah yang kita bicarakan ketika membahas tentang “representation”? pemaknaan adalah merupakan hal yang mendasar dalam komunikasi manusia untuk budaya manusia. Durkheim menyatakan bahwa pemaknaan kolektif merupakan perhatian utama dari para sosiologis dan antropologis. Seni adalah representatif demikian juga bahasa, misalnya pada kata “horse” untuk hewan kuda. Dia juga bisa berarti mimetik sebagaimana ‘pitter-patter’ meniru rintik hujan. Saya sangat peduli mengenai kategori pemaknaan artistik gambar, dalam lukisan dan patung, dan juga pada teater sebagaimana pembahasan yang lebih menyeluruh mengenai penyembahan berhala (yang mewakili figur seseorang) dan pemaknaan fiksi. Letertarikan saya akan fenomena fenomena ini terdapat pada dua aspek utama. Pertama, ketimpangan distribusinya dalam masyarakat pada waktu yang berbeda namun dalam masyarakat yang sama. Yang kedua, keberatan yang muncul baik perseorangan maupun khalayak umum. Saya berharap kedua aspek utama ini mengindikasikan hal yang memiliki inter-relasi.

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Jumat itu apa?

eh hari ini hari jumat ... hari baru datang lagi ,,, menjemukan seperti yang kemarin kemarin ... memang sudah semestinya ... pagi hari dibakar dengan rock and roll dan makanan setengah basi yang bikin muak .... lha kiprahnya disini seperti ap? sementara job translate masih menumpuk berpuluh puluh lembar menanti digarap diselesaikan ... di sisi lain isi kepala sudah mau tumpah rasanya mau meledak meletus seperti gunung berapi yang sedang marah berkecamuk .... dan hari ini hari jumat hari yang kata orang orang hari barokah ... goblok tuh orang orang ... kalian pikir hari itu cuma jumat? kalian pikir setiap hari itu bukan anugerah yang barokah??? ah ... lama lama diracuni rasisme ...

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Ya Sudah

Semua orang kan berhak bahagia? Ya yang begitu itu ya sudah, ngga apa apa. Toh kita punya kisah apa? Cuma semalam seranjang kan ? Giliranmu bahagia aku punya ruang melarang apa? Toh sebaik apapun kita, aku tetap harus memberi ruang untuk hidupmu kan ??

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Menggembirakan

sejenak mulai menggunakan isi kepala untuk berpikir mempertimbangkan banyak hal mengenai pilihan pilihan dalam hidup tentang apa yang sudah dan apa yang belum terlaksana. menelisik timeline kehidupan lagi lewat lorong lorong waktu imajiner belajar dari pengalaman pengalaman lama mengenai kehidupan yang sungguh berharga dan terlalu sayang untuk dilupakan begitu saja. hidup ini mudah dan sebentar saja, benak kita saja yang membuatnya terlihat seolah rumit, mata kita dijejali dengan pemandangan pemandangan  tidak cukup adil rasanya hidup di tengah perbandingan, kemauan orang orang untuk membanding bandingkan hal hal yang belum mereka ketahui sejatinya. bagaimanapun juga kita tetap harus sadar bahwa hidup itu tetaplah hidup. dan bagaimanapun dijalaninya hidup tetap akan selalu punya tujuan dengan upaya upaya. kita tak sekalipun mudah menyerah dengan keinginan walaupun memang banyak diantara kita yang masih dibutakan ambisi ambisi. lihatlah betapa hidup sederhana adalah cukup ideal dan menggembirakan. apa lah artinya pencapaian tanpa keadaan yang menggembirakan???

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Mengaktifan Kembali

setelah sekian lamanya tidak lagi pernah berkutat dengan tulisan rasanya rindu untuk kembali menorehkan sepatah dua patah kata di blog kecil yang tak seorangpun tau ini. sekian lama rindu aktivitas menulis kembali aku bangkitkan lagi hobby tak berbayar dngan mengeksplorasi kemerdekaan kata kata baik yang imajinatif maupun yang masih abstrak di awang awang. ingin menjadi manusia seutuhnya yang sesempurna mungkin dengan kemerdekaan berkata kata dan menuliskan apapun yang aku suka. dalam petang yang pengap dan penuh nyamuk ini mencoba kembali aku hidupkan lagi luwesnya gimmik kata kata lewat torehan dan cetusan ide satu demi satu kata. hari ii ... hari kedua di tahun ini merupakan hari yang penuh dengan perenungan perenungan ecil di tengah semaraknya sosial media membuat hari hariku cukup berisik dengan gaya hidup gaya hidup orang lain sementara aku hanyut larut dalam euforia orang orang.. sungguh aku rindu kegiatan menulis yang telah sekian tahun memudar dalam kepribadian ini ... menulis meramu kemerdekaan lewat senjata literasi

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Tonggos

Wis tonggos beca bece ae taek koyo seng penting pentingo ae. Menungso urip kok kakean gaya cuk! Guayane koyo dapurmu seng yak yak'o ae kuepet. Urip kakean cangkem polah kakean gaya ngunu arep maju ngimpi we su!! Nek ayu kuwi rapopo wong trah modelmu ae koyo telek kakean guaya cuk jancuk. Baliyo kono nang alas nggonmu urip. Urip nang jowo mung nambahi taek utekmu entut!! Tak pikir pinter pintere koyo ngopo ndadak TOEFL tak panut tiwas percoyo elmune jebule guoblog meleset kabeh telek untunge ra manut kowe. Manuto lak melu goblog koyo kowe aq su asu! Urip kakean gaya, wong ndompleng ragad ae lho.. Lonte te... Ngakune diprawani wong dho ngerti klakuanmu ae lho... Kepet pet
Matiyo ae kowe su! Ndak mbebani APBN !!

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Coretan Sabtu Malam

Hari ini adalah hari minggu dan seperti biasanya aku melewatkan malam ini dengan begadang bersama teman teman tanpa terpikir sedikitpun perasaan khawatir tentang apa yang akan terjadi hari esok. Sementara tanganku tengah sibuk memainkan game yang ada di laptop kesayangan di sisi lain otakku terpecah dengan kegelisahan tentang teguran teguran dan pertanda pertanda yang muncul meragukan intuisi yang tajam. Sebagaimana firasat membisikkan suara suara aku masih terjerat dengan keadaan malam yang jauh dari bising tetap hening seperti dunia tengah tertidur separuh aku masih memainkan peranan dalam sandiwara besar ini. Sebuah dunia dimana aku berdiri berlari dan berpikir seperti apa adanya. Tiga atau empat kali langkah yang ada akan selalu menghantarkanku pada rumah tempat aku pulang tempat dimana awal aku melangkahkan kaki dengan arah yang belum menentu. Malam in, tidak seperti malam malam yang lainnya aku melewatkannya dengan bayangan bayangan masa lalu, satu demi satu nampak tergambar jelas dalam bayangan tentang bagaimana aku melukiskan wajah wajah penuh dendam dan amarah. Ah sepertinya di kejauhan tengah terbersit horison horison kecil yang jadi acuan agar aku tak tersesat. Tetapi, nampak makin jauh makin kecil dan makin samar. Inilah tempat aku menuliskan keluh kesah menyandarkan batin yang lelah menunggu dengan jutaan bisikan dan suara suara hening. Aku tak berhenti menorehkan luka demi luka sedangkan aku sendiri tengah lelah menahan pedihnya ditinggalkan dunia. Akankah aku mengejar dunia sementara dunia bukanlah arah yang seharusnya aku tuju. Ataukah salah aku merasakan diriku berada di tengah tengah kehilangan seperti yang orang lain tak pernah membayangkannya sebelumnya. Dunia ini sebuah tempat yang penuh dengan orang orang sepertiku dan lambat laun dunia pun turut mengakuinya sebagai warisan dan wasiat yang kelak dunia akan tinggalkan untuk generasi generasi semacamku yang akan selalu menorehkan hal hal yang sama agar tertinggal pada prasasti prasasti yang akan selalu dikenang oleh orang orang, sementara aku masih terus berceloteh dalam tanah tanah peuburan yang dingin gelap sunyi sepi dn mengerikan. Seperti ruangan kosong yang tak berpenghuni yang tak terdapat satu pun tanda tanda kehidupan di dalamnya dunia yang selalu merindukan terang dari pijar pijar bukan hasil tangan tangan setan yang ta bernyawa menyiratkan bahwa Tuhan telah lama murka. Aku tak ingin... sama sekali tak ingin melihatnya sementara kemurkaan tergantung di wajahnya. Bukankah masih akan selalu ada pilihan setelah ini? Ataukah aku menunggu hal pada tempat yang salah. Hatiku tak berhenti menanyakan seperti hal nya yang ditanyakan oleh orang orang sebelum aku. Tak perlu dicerna tak perlu dipikirkan itulah sebuah pertanyaan yang tak pernah habis dan akan selalu muncul pertanyaan pertanyaan berikutnya. Ah sungguh lelah menunggu dunia, dunia yang tak pernah datang dengan sebenar benarnya keadaan aku masih terus terpikir bahwa inilah tempat lagi dimana aku mengingatnya kembali dan mengenang dari cara memandang dan berbicara, sebuah tempat dimana aku benar benar merasakan kekosongan yang sebelumnya tak pernah aku rasakan seperti ini pedihnya. Menduga dan bergumam, ah sampai dimana harusnya aku mencerna? Masihkah ada arah? Sementara harapan telah aku tebarkan ke seluruh penjuru, tinggal melangkah aku hanya menunggu ....


Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Senin

Hari ini hari senin lagi. Ah . Senin. Inget senin rasanya kaku bosen. Tapi nih ya aku sedikit punya perasaan berbeda tiap tau bahwa anak anak sudah menjelang liburan pasca selesai nya ujian nasional kemarin. Rasanya aku juga ikutan libur :) hehehe. Atau jangan jangan jiwaku masih jiwa jiwa anak sekolahan juga ya. Wkwkwk. Ngga ada yang tau. Aktivitas rutinitas di studio dilewatkan dengan hal hal membosankan. Bikin video, dengerin lagu, nonton film. Ya begitulah rutinitas kesepian sehari hari. Duit dan rejeki datang lewat sepi. Duit dan rejeki, eh salah, rejeki dan rutinitas. Rutinitas seharian sepertinya kaku. Eh tapi sudah beberapa lama ini kurang aktif di aktivitas blog lagi. Sekarang mulai gencar lagi posting di blog yaa mudah mudahan masih banyak lagi ide yang bakal gencar mengalir. Mudah mudahan rejeki dalam kesendirian masih mengalir lancar seperti hari hari belakangan ini. Mudah mudahan Allah kasih berkah. Berkah anak soleh? Ah bukan. Aku bukan anak soleh. Yang namanya berkah ya berkah aja. Dari tuhan, kita mah cuma ngarep aja. Hehehe. Yang penting sebanyak apapun berkah yg diterima ngga bikin kita jadi lupa daratan masih tau diri dan inget sesama. Iya kan ta ?


Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Ultah Ibu

Hari ini memang hari yang spesial. Selain hari buruh ada hal lain yang bikin hari ini sedikit berbeda. Jauh dari hiruk pikuk euforia orang orang yang mensuarakan hari buruh, hari ini adalah ulang tahun ibunda tercinta. Hari ini, 53 tahun yang lalu ibunda lahir ke dunia. Tidak banyak yang mengingat ulang tahunnya, kalo saja aku tak sering ngetik nomor induk pegawai dan nuptk untuk sertifikasinya mungkin aku juga tak akan pernah ingat ini hari ulang tahunnya. Tapi untuk seorang ibunda, ulang tahun seperti ini tak terlalu banyak berarti. Sama seperti hari hari lainnya, diisi dengan melayani keluarga, masak, nyuci dan beraktivitas. Berhubung ini hari buruh, ibunda menikmati hari liburnya dengan bersantai menonton tv di rumah. Tidak ada agenda spesial. Sama seperti hari hari lainnya, ulang tahun biasa. Perayaan pun tak ada. Hanya di televisi riuh dengan buruh turun ke jalanan menyuarakan kehendak dan keinginannya, tapi ibuku, jauh lebih mulia dari buruh. Ibuku, tak perlu turun ke jalan menyuarakan isi hatinya, dia tak punya apapun untuk dipendam. Hidupnya tenang dan tak punya beban. Hidupnya serasa lengkap berada di tengah tengah keluarga yang saling menjaga, berhubungan baik dengan kerabat dan saudara, tak pernah ada yang terlewatkan. Hari ini, hanya sebuah simbol. Satu dari ribuan hari hari lain selain hari ini , sebagai wujud rasa syukur seorang manusia seorang istri dan seorang ibu bahwa hidupnya dianugerahi berkah dan dikelilingi orang orang yang peduli. Keindahan berkumpul bersama keluarga, mengabdi dan menikmati kebersamaan. Selamat ulang tahun ibu, maafkan ananda belum bisa kasih kado spesial selain doa dan tulisan blog, agar ibu senantiasa sehat ceria dan optimis. Terimakasih

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © 2012 Isi KepalaTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.