Matiyo ae kowe su! Ndak mbebani APBN !!
Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan
Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan
Hari ini adalah hari minggu dan seperti biasanya aku melewatkan malam ini dengan begadang bersama teman teman tanpa terpikir sedikitpun perasaan khawatir tentang apa yang akan terjadi hari esok. Sementara tanganku tengah sibuk memainkan game yang ada di laptop kesayangan di sisi lain otakku terpecah dengan kegelisahan tentang teguran teguran dan pertanda pertanda yang muncul meragukan intuisi yang tajam. Sebagaimana firasat membisikkan suara suara aku masih terjerat dengan keadaan malam yang jauh dari bising tetap hening seperti dunia tengah tertidur separuh aku masih memainkan peranan dalam sandiwara besar ini. Sebuah dunia dimana aku berdiri berlari dan berpikir seperti apa adanya. Tiga atau empat kali langkah yang ada akan selalu menghantarkanku pada rumah tempat aku pulang tempat dimana awal aku melangkahkan kaki dengan arah yang belum menentu. Malam in, tidak seperti malam malam yang lainnya aku melewatkannya dengan bayangan bayangan masa lalu, satu demi satu nampak tergambar jelas dalam bayangan tentang bagaimana aku melukiskan wajah wajah penuh dendam dan amarah. Ah sepertinya di kejauhan tengah terbersit horison horison kecil yang jadi acuan agar aku tak tersesat. Tetapi, nampak makin jauh makin kecil dan makin samar. Inilah tempat aku menuliskan keluh kesah menyandarkan batin yang lelah menunggu dengan jutaan bisikan dan suara suara hening. Aku tak berhenti menorehkan luka demi luka sedangkan aku sendiri tengah lelah menahan pedihnya ditinggalkan dunia. Akankah aku mengejar dunia sementara dunia bukanlah arah yang seharusnya aku tuju. Ataukah salah aku merasakan diriku berada di tengah tengah kehilangan seperti yang orang lain tak pernah membayangkannya sebelumnya. Dunia ini sebuah tempat yang penuh dengan orang orang sepertiku dan lambat laun dunia pun turut mengakuinya sebagai warisan dan wasiat yang kelak dunia akan tinggalkan untuk generasi generasi semacamku yang akan selalu menorehkan hal hal yang sama agar tertinggal pada prasasti prasasti yang akan selalu dikenang oleh orang orang, sementara aku masih terus berceloteh dalam tanah tanah peuburan yang dingin gelap sunyi sepi dn mengerikan. Seperti ruangan kosong yang tak berpenghuni yang tak terdapat satu pun tanda tanda kehidupan di dalamnya dunia yang selalu merindukan terang dari pijar pijar bukan hasil tangan tangan setan yang ta bernyawa menyiratkan bahwa Tuhan telah lama murka. Aku tak ingin... sama sekali tak ingin melihatnya sementara kemurkaan tergantung di wajahnya. Bukankah masih akan selalu ada pilihan setelah ini? Ataukah aku menunggu hal pada tempat yang salah. Hatiku tak berhenti menanyakan seperti hal nya yang ditanyakan oleh orang orang sebelum aku. Tak perlu dicerna tak perlu dipikirkan itulah sebuah pertanyaan yang tak pernah habis dan akan selalu muncul pertanyaan pertanyaan berikutnya. Ah sungguh lelah menunggu dunia, dunia yang tak pernah datang dengan sebenar benarnya keadaan aku masih terus terpikir bahwa inilah tempat lagi dimana aku mengingatnya kembali dan mengenang dari cara memandang dan berbicara, sebuah tempat dimana aku benar benar merasakan kekosongan yang sebelumnya tak pernah aku rasakan seperti ini pedihnya. Menduga dan bergumam, ah sampai dimana harusnya aku mencerna? Masihkah ada arah? Sementara harapan telah aku tebarkan ke seluruh penjuru, tinggal melangkah aku hanya menunggu ....
Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan
Hari ini hari senin lagi. Ah . Senin. Inget senin rasanya kaku bosen. Tapi nih ya aku sedikit punya perasaan berbeda tiap tau bahwa anak anak sudah menjelang liburan pasca selesai nya ujian nasional kemarin. Rasanya aku juga ikutan libur :) hehehe. Atau jangan jangan jiwaku masih jiwa jiwa anak sekolahan juga ya. Wkwkwk. Ngga ada yang tau. Aktivitas rutinitas di studio dilewatkan dengan hal hal membosankan. Bikin video, dengerin lagu, nonton film. Ya begitulah rutinitas kesepian sehari hari. Duit dan rejeki datang lewat sepi. Duit dan rejeki, eh salah, rejeki dan rutinitas. Rutinitas seharian sepertinya kaku. Eh tapi sudah beberapa lama ini kurang aktif di aktivitas blog lagi. Sekarang mulai gencar lagi posting di blog yaa mudah mudahan masih banyak lagi ide yang bakal gencar mengalir. Mudah mudahan rejeki dalam kesendirian masih mengalir lancar seperti hari hari belakangan ini. Mudah mudahan Allah kasih berkah. Berkah anak soleh? Ah bukan. Aku bukan anak soleh. Yang namanya berkah ya berkah aja. Dari tuhan, kita mah cuma ngarep aja. Hehehe. Yang penting sebanyak apapun berkah yg diterima ngga bikin kita jadi lupa daratan masih tau diri dan inget sesama. Iya kan ta ?
Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan
Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan
Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan
Wah dingin. Beberapa hari ini kota ini isinya hujan air dan basah semua. Hujan mulu isinya. Sampe lupa mau nulis. Blog jadi terbengkalai. Beberapa hari belakangan ini kota kecil ini diguyur hujan dengan elegan. Artinya basah semua seperti lagu pohon dan kebun basah semua. Mudah mudahan hujan yang turun ini hujan berkah bukan bencana. Ya kalo emang bencana ya disegerakan lah maksudnya penderitaannya disegerakan supaya cepet berlalu hehehe. Kan emang iya. Semalam pulang dari rustam jam satu pagi, pagi ini baru bangun dari peraduan jam setengah delapan pagi. Wah akhir akhir ini memang cenderung pemalas aku. Kok bisa . Ya bisa karena aktivitas hari hari isinya cuma begadang begadang dan begadang lagi. Begadang jangan begadang kalo tiada kopi-nya begitu kata lagu dangdut. Ya daripada di rumah menghadap kesana kemari ya isinya dinding mending kumpul sama teman teman begadang main kartu ngobrol sambil cerita cerita. Yang penting kan ngga narkoba. Ngga mabuk mabukan. Ngga judi. Ngga main perempuan. Dimainin perempuan aja. Aaiih . Labil. Wkwkwk. Ngga sih. Kalo agenda begadang yang positif ya harusnya begitulah. Untungnya pergaulan aku baik baik saja. Maksudnya ngga ada teman yang punya kecenderungan mengajak ke arah yang merusak. Paling paling nonton bokep di handphone. Dan itu pun bosen banget. Bokep ya begitu begitu aja. Nonton nonton mulu, mending praktik nya. Rustam angga budi firman, semuanya udah berkeluarga, rasanya nonton nonton begituan udah ngga menarik. Wong punya istri masing masing. Aku meskipun single begini setidaknya yaa sudah tau lah rasanya. Ya gitu gitu aja. Ngga menarik. Begadang lebih diisi dengan aktivitas menghibur. Ya iya lah wong dari pagi kerja sampe sore. Malam nya berhak lagi mengisi kejenuhan dengan sesuatu yang dinamis. Masa mau kerja terus. Stress lama lama. Sekali sekali boleh lah refreshing. Meski cuma nongkrong main kartu nyanyi nyanyi sambil diiringi hujan dan petir menggelegar. Hahaha. Yaa kapan lagi mumpung masih sempat. Kan mumpung masih single. Besok kelak kalo sudah berkeluarga mana bisa beginian lagi. Boro boro. Mau keluar aja dipantau. Harus dapat izin istri. Ngga diizinin ya jangan coba coba kalo ngga pengen jatah ranjang distop dua bulan. Ngga ada toleransi. Pernikahan itu seperti lapas. Lembaga pemasyarakatan. Memasyarakatkan dan termasyarakatkan. Sama kya punya istri. Istri seperti sipir . Kita mau ngapain kemana mana digeledah. Diawasi. Istri itu ngga kemana mana tapi punya mata dimana mana . Punya telinga dimana mana. Jangan bayangkan kalo perempuan ngalah. Idiiih kalo istri marah udah deh kita kaum lelaki cari aman, kalo ngga pengen menderita sepanjang sisa hidup. Bener deh. Pernikahan itu katanya jembatan kebahagiaan . Itu cuma kata pastur. Cuma kata kyai. Cuma ada di novel dan sinetron. Pernikahan itu, akhir hidup. Titik. Jadi kamu kamu ini kaum lelaki yang masih single yang Akan menikah, selagi kamu masih bener bener belum menikah, udah deh nikmati baik baik masa lajang kamu. Bener deh. Aku udah pengalaman. Ntar kelak besok kalo kamu udah menikah bener, udah deh, katakan selamat tinggal dengan dunia pergaulan kamu. Ucapkan selamat datang di era kegelapan sepanjang sisa hidup kamu. Hahaha. Apalagi yang mau punya anak. Waduh. Itu . . . Cobaan berat. Hahaha. Khususnya buat para kaum lelaki yang jantan dan berwibawa, kaya aku gini nih hehehe, kalo inget masa lajang masih muda itu rasanya pengen nangis. Huuu huuu huuu. Masih muda mau ngapain aja mau kemana aja mau sampe jam berapa aja, bisa! Apalagi nih anak kost. Yang namanya anak kost. Waduh udah deh. Ngga ada matinya. Kost ku. Makin malem makin rame. Makin terang makin pagi makin sepi tanda tanda kehidupan. Seperti kost mati. Tapi kalo malem, apalagi notabene penghuninya lajang dan lajang semuanya, waduh, yang namanya sound sistem, udah kya klub. Party mulu man! Hahaha. Tapi. Itu dulu. Itu dulu banget. Zaman hidup kami belum terjamah makhluk yang namanya istri. Semenjak istri hadir, it ends ! Selesai. Hahaha. Udah deh jadi buat kamu kaum lelaki yang mau selamat, kalo sudah punya istri, cari aman. Cari aman aja. Kalo mau hidup kamu lebih lama lagi, cari aman . Ngeri deh pokoknya. Wkwkwk. Pengalaman pribadi. Untungnya aku sekarang bujangan lagi. Hehehe. Jadi free lagi. Bujangan tapi jangan bajingan. Kalo bisa sih. Kalo ngga bisa . . . Yaa diupayakan. Kalo masih ngga bisa . . . . Yaa tanyakan saja sama iwan fals :) wkwkwk
Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan
Rasanya sudah agak lama ngga nulis di blog ini. Gatal tangan ini ingin menumpahkan isi kepala yang selama ini terpikir di benak dan hangus jadi sekedar pemikiran ngga berujung.Aku, dua hari ini semenjak lebih sering berkunjung ke tempat si rustam banyak disuguhi wacana wacana berat mengenai alam semesta dan theologi . Tidak jauh jauh dari konsep agama. Begitu banyak dalam hidup ku serba serbi mengenai agama yang orang orang meyakini nya dengan mati matian sebagai sesuatu yang melekat semenjak mereka dibawa ke dunia. Lalu setelah melihat cukup banyak dan menyimpulkan, aku kok jadi makin benci dengan hal hal religius yang ditampakkan. Semakin muak dengan kelakuan dan pemikiran orang orang. Bahkan dengan tidak malu malu mereka gemar berdebat memperdebatkan cara pandang seseorang dengan orang yang lain mengenai konsep ketuhanan. Padahal jadi tuhan aja nggak, tapi merasa sok paling tau. Maaf-mungkin terlalu frontal bahasa-nya, tapi ini lah sisi pemikiran terjujurku bahwa aku lama kelamaan semakin muak dengan agama. Semakin jengah semakin sakit melihat tingkah org org pongah merasa paling tau mengenai apa yang ditanam dalam hati. Apa gunanya. Debat berdebat dalam hal keyakinan meyakini adanya tuhan sang maha pencipta alam semesta-beserta isinya. Apa yang mereka coba buktikan. Apa yang mereka coba perdebatkan wong ya sama sama manusia. Kenapa ngga buka mata saja mempererat kesamaan ketimbang memperuncing perbedaan. Tidak adil rasanya kalo manusia saling menjatuhkan hanya demi sesuatu yang diyakininya dan tak sesuai dengan apa yang terdapat pada pemikiran seseorang. Mikir sampe ngantuk dan bener bener ngantuk, masih belum juga aku dapat jawaban kenapa orang orang lebih mencintai debat agama ketimbang aktivitas kolektif yang toleran yang fungsi sosialnya lebih tinggi daripada fungsi religius. Yang dicapai apa? Wong ya agama itu tidak diciptakan tuhan. Tuhan hanya menciptakan alam semesta, tuhan ngga nyuruh manusia untuk memeluk agama. Ada atau tidak ada agama tuhan sama sekali ngga bakal rugi. Jadi sekalipun seluruh umat manusia membangkang, tuhan sama sekali ngga bakal rugi. Lanjut. Tulisannya kepotong karena tertidur kemaren. Hari ini hari senin lanjut lagi tulisan begini. Fanatik agama. Aku kok kurang suka sama orang yang fanatik agama. Bagi seseorang yang fanatik terhadap agama tertentu, hal hal yang berkaitan dengan agamanya adalah benar sementara yang di luar agamanya itu salah. Orang fanatik agama cenderung rasis biasanya. Memandang orang lain yang ngga sama cara hidupnya sebagai orang yang salah dan patut dihukum. Fanatik seperti ini yang ngga tepat. Fanatisme identik dengan kebodohan. Dan kebodohan itu pangkal kehancuran katanya. Kita lihat saja fanatik dalam hal apapun. Agama, teknologi, sistem sosial, apapun itu. Ngga pernah punya banyak manfaat. Malah cenderung sibuk hujat menghujat hidupnya. Aku jijik lihat grup grup bertebaran yang judulnya debat agama ini versus agama ini. Kok merasa yang paling pintar soal agama. Mungkin pola pikirku ini mewakili satu diantara ribuan orang di dunia ini yang mungkin punya pikiran dan pandangan yang sama. Fanatik. Orang cenderung fanatik bila dia tumbuh dan tinggal di lingkungan yang minim toleransi. Makanya aku bersyukur jadi orang indonesia ini, meski orangnya banyak yang fanatik dan bodoh, tapi toleransi disini masih kental. Kebodohan itu memang diakui sebagai sisa dari perkembangan kebudayaan dan peradaban. Sebenernya terminologi bodoh dan kebodohan itu bukan sebagai sebuah aib atau kelemahan. Tapi sebagai proses, dari tidak tau menjadi tau, dari malu menjadi berani, dan ragu menjadi yakin. Bodoh itu temporer. Bagaimana dengan bodoh yang berlangsung dalam waktu yang lama? Kalo udah begitu sih kaitannya dengan watak. Watak ngga ingin maju. Watak terlalu berat dengan zona nyaman hidupnya. Terlalu berat keluar dari zona nyaman karena memang malas berbuat dan mengubah apapun. Fanatik. Aku melihat beberapa tahun ini memang banyak bermunculan bibit bibit fanatisme dengan sudut pandang yang kurang tepat. Aku katakan kurang tepat karena memang orientasi nya diletakkan pada pondasi yang arahnya melenceng dari tujuan awal. Misalnya agama didekati untuk dipelajari, diamalkan dan diajarkan. Tapi pada praktiknya dewasa ini agama malah jadi komoditi. Punya nilai ekonomis. Dijual di media massa dengan wajah wajah seolah minta dipuji. Padahal semua itu polesan. Tidak benar benar hadir dari panggilan hati. Yang seperti itu, parahnya lagi, dipercaya orang banyak sebagai pencerahan. Akhirnya orang orang tergelincir dalam sisi manusiawi si pensyiar tadi.
Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan
Wanita wanita di studio hari ini kok cenderung narsis ya. Foto diri sendiri pake senyum senyum. Yaa cakep lah lumayan. Tapi narsis nya itu lho. Kalo se-level ikutan kelas modelling yaa boleh lah. Mungkin foto foto selfie itu dia bakal upload ke sosial media-nya. Atau sekedar jadi foto profil black berry messengernya . Ada satu cewe. Namanya melly. Mungkin kelas dua, atau tiga, smp di kota ini. Tubuhnya mungil tapi semampai. Kelas modelling cherrys agency dari jember. Kebetulan latihan materi casual kelas modelling di studio hari ini. Siang hingga sore ini. Pas waktunya time out, dengan setelan hot pants, baju casual tank top dan sepatu high heels nya dia jongkok diantara pot bunga dan tembok cat biru dengan menjulurkan pose tangan jari damai khas nya anak anak sekarang. Senyum ke arah kamera. Dan, jepreet. Masuk deh di memory handphone-nya. Entah bakal dia upload kemana aja, bukan urusanku . Tapi sedari awal dia pasang pasang badan pose kanan kiri cembung nungging senyum manyun sampe meringis aku amati dari kejauhan di dalam studio. Ah. Emang bener ya. Wanita sekarang cepat sekali tumbuh. Pantat anak seumur dia yang harusnya masih kosong melompong sekarang sudah berisi seperti tante tante beranak tiga. Walah . Pake tato di punggungnya. Entah gambar serangga atau bendera somalia wkwkwk entahlah. Pokoknya potongannya khas anak modelling. Gila. Ini kan anak smp . Handphonenya udah produk apel kerowak logonya. Wah. Barangkali dia udah kerja sendiri. Atau bapaknya juragan yakuza yang banyak duitnya. Hahaha ngga apa lah. Toh kan punya dia sendiri. Ngga minta sama aku. Lanjut, ada kurang lebih lima belas model tadi yang ikut kelas materi casual di studio. Dididik instruktur dari cherrys agency jember, melenggang mulus di sanggar. Kurang lebih lima belasan orang. Ngga cewek semua sih. Yang cowok kurang lebih ada tiga atau empat orang. Ada yg masih anak anak, ada yg masih sekolah. Aiih ada yang melambai . Hii . Tapi ngga apa lah . Hanya karena dia melambai bukan berarti aku lebih baik dari dia. Suasana studio siang hari ini cukup semarak lah. Aku nungguin sambil bbm-an dan tidur tiduran di studio sebelah. Sesekali karena bosan, main drum. Itung itung buang jenuh. Lumayan menghibur hati. Kapan lagi, ya kan . Hehehe.
Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan
Sudah dua hari ngga nulis blog ini. Ngga nyampah dua hari itu rasanya seperti ada yang kurang. Ada yang mengganjal kalo kita dua hari ngga menuliskan apapun di blog. Blog sampahan sampahan begini ini memang agak ngga penting juga keberadaannya tapi setelah ditinggalkan itu kok kya nya ada yang kurang dalam satu hari. Mulai. Bercerita tentang pengalaman hari ini. Pengalaman yang terjadi dalam satu hari ini yang dianggap menarik untuk dijadikan sampahan. Hari ini hari jumat. Seperti biasanya memang waktunya untuk kerja karena konon katanya hari hari menjelang weekend emang lagi rame rame-nya rejeki lalu lalang. Sebenernya pas berangkat dari rumah perut isinya penuh. Perut cukup kenyang diisi makanan sejak pagi. Emang sejak pagi di rumah ngga ngapa ngapain sengaja cuma nonton tv dan tidur karena aku pikir masih terlalu pagi untuk bingung mikirin orang orang. Kerjaannya cuma malas malasan makann dan tidur. Menjelang siang, mulai beranjak beraktivitas. Jenuh kalo kudu di rumah mulu. Pas berangkat dari rumah di jalan kok ada penjual cilok alias penthol kalo orang sini bilang mah. Atau cimol kalo orang sidoarjo bilang. Tapi kalo secara indonesia-sentris orang orang mengenalnya dengan bakso saja. Oke deh sepakat. Sebut saja bakso. Biar gampang. Aku berangkat dari rumah, menuju studio. Ngga jauh dari rumah kira kira sepuluh menit di tengah perjalanan ngeliat penjual bakso lagi duduk manis dikerumuni anak anak smp yang baru pulang sekolah. Aku yang sudah bangkotan ini turut mengantre beli :) hahaha. Padahal sebenernya malu sih. Cuma ya kadung berhenti dari motor kalo ngga jadi beli kan ngga enak. Gengsi juga ntar dikira kemana mana bawa motor parlente juga, ngga tau nya beli bakso pelit amat :) biasanya orang sekarang kan gitu. Hehehe. Akhirnya antre lah aku diantara cewe cewe yang patut nya manggil aku dengan sebutan om itu. Saat tiba giliran, aku bilang seperti biasa, lima ribu jadiin dua bungkus. Eh ternyata si abang bakso dengernya lima ribu dua bungkus. Berhubung di dompet ngga ada duit lima ribu, jadi aku bayar pake duit sepuluh ribu. Ternyata pas kata dia. Walah . Tekor ini ceritanya. Wong minta nya lima ribu dijadiin dua bungkus malah dilayani lima ribuan dua bungkus. Halah . Mana bakso-nya ngga enak lagi. Alamat, kudu menghabiskan bulatan tepung tepung itu. Ya sudah ngga apa apa. Itung itung sedekah. Eh lupa. Kalo sedekah ngga boleh pamer. Ya sudah anggap saja jiwa pengampun ku hadir disaat itu. Wkwkwk. Kalo berbuat kebajikan sih ngga perlu disebut sebut. Ntar ngga berkah. Yang dicari kan faedah dan berkah to? Iya yaa harusnya begitu. Tapi masalahnya tidak berhenti di situ. Masalahnya adalah kumpulin duit itu ngga jadi jadi kalo tiap hari untuk bakso atau jajan mulu. Aku nih ngga ubahnya seperti anak taman kanak kanak. Jajan mulu sukanya. Duit habis habis di jajan. Ini itu pengen beli mulu. Penyakit apa yaa itu namanya. Mungkin hanya wanita yang faham hal hal begitu mungkin ya :)
Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan
Berdasarkan Legenda Pangeran Situbondo, nama Kabupaten Situbondo berasal dan nama Pangeran Situbondo atau Pangeran Aryo Gajah Situbondo, dimana sepengetahuan masyarakat Situbondo bahwa Pangeran Situbondo tidak pernah menampakkan hal tersebut dikarenakan keberadaannya di Kabupaten Situbondo kemungkinan sudah dalam keadaan meninggal dunia akibat kekalahan pertarungannya dengan Joko Jumput, sehingga hanya ditandai dengan ditemukannya sebuah ‘odheng’ (ikat kepala). ‘odheng’ Pangeran Situbondo yang ditemukan di wilayah Kelurahan Patokan dan sekarang dijadikan Ibukota Kabupaten Situbondo.
Sedangkan menurut pemeo yang berkembang di masyarakat, arti kata SITUBONDO berasal dan kata: SITI = tanah dan BANDO = ikat , ha! tersebut dikaitkan dengan suatu keyakinan bahwa orang pendatang akan diikat untuk menetap di tanah Situbondo, kenyataan ini mendekati kebenaran banyak orang pendatang yang akhirnya menetap di Kabupaten Situbondo. Legenda Pangeran Situbondo Pengeran Situbondo atau Pengeran Aryo Gajah Situbondo besaral dan Madura, pada suatu ketika dia ingin meminang Putni Adipati Suroboyo yang terkenal cantik, maka datanglah Pangeran Situbondo ke Surabaya untuk melamar Putri Adipati Suroboyo, namun sayang keinginan Pangeran Situbondo sebenarnya ditolak oleh Adipati Suroboyo, akan tetapi penolakannya tidak secara terus-terang hanya diberi persyaratan untuk membabat hutan di sebelah Timur Surabaya, padahal persyaratan tersebut hanyalah suatu alasan yang maksudnya untuk mengulur-ulur waktu saja, sambil merencanakan siasat bagaimana caranya dapat menyingkirkan Pangeran Situbondo. Kesempatan Adipati Suroboyo menjalankan rencananya terbuka ketika keponakannya yang bernama Joko Taruno dari Kediri, karena rupanya Joko Taruno juga bermaksud menyunting putrinya dan Adipati Suroboyo tidak keberatan namun dengan syarat Joko Taruno harus mengalahkan Pangeran Situbondo terlebih dahulu.
Terdorong keinginannya untuk menyunting sang putri, maka berangkatlah Joko Taruno ke hutan untuk menantang Pangeran Situbondo, namun sayang Joko Taruno kalah dalam pertarungan tetapi kekalahannya tidak sampai terbunuh, sehingga Joko Taruno masih sempat mengadakan sayembara bahwa “barang siapa bisa mengalahkan Pangeran Situbondo akan mendapatkan hadiah separuh kekayaannya”. Mendengar sayembara tersebut datanglah Joko Jumput putra Mbok Rondo Prabankenco untuk mencoba maka ditantanglah Pangeran Situbondo oleh Joko Jumput, dan ternyata dalam pertarungan tersebut dimenangkan Joko Jumput, sedangkan Pangeran Situbondo tertendang jauh ke arah Timur hingga sampai di daerah Kabupaten Situbondo ditandai dengan ditemukannya sebuah ‘odheng’ (ikat kepala) Pangeran Situbondo, yang tepatnya ditemukan di wilayah Kelurahan Patokan yang sekarang menjadi Ibukota Kabupaten Situbondo.
Selanjutnya kembali ke Surabaya dimana di hadapan Adipati Suroboyo kemenangan Joko Jumput atas Pangeran Situbondo diakui oleh Joko Taruno sebagai kemenangannya, narnun Adipati Suroboyo tidak begitu saja mempercayainya, maka untuk membuktikannya disuruhlah keduanya bertarung untuk menentukan siapa yang menjadi pemenang sesungguhnya. Akhirnya pada saat pertarungan terjadi Joko Taruno tertimpa kutukan menjadi patung “Joko Dolog” akibat kebohongannya. Sejarah Kota Situbondo Sejarah Kabupaten Situbondo tidak terlepas dan sejarah Karesidenan Besuki, sehingga kita perlu mengkaji terlebih dahulu sejarah Karesidenan Besuki. Yang membabat Karesidenan Besuki pertama kali adalah Ki Pateh Abs (± th 1700) selanjutnya dipasrahkan kepada Tumenggung Joyo Lelono.
Karena pada saat itu juga Belanda sudah menguasai Pulau Jawa (± th 1743) terutama di daerah pesisir termasuk pula Karesidenan Besuki dan dengan segala tipu-dayanya, maka pada akhirnya Tumenggung Joyo Lebono tidak berdaya hingga Karesidenan Besuki dikuasai sepenuhnya oleh Belanda. Pada rnasanya (± th 1798) Pemerintahan Belanda pernah kekurangan keuangan untuk rnembiayai Pemerintahannya, sehingga Pulau Jawa pernah dikontrakkan kepada orang China, kemudian datanglah Raffles (± th 1811 - 1816) dan Inggris yang mengganti kekuasaan Belanda dan menebus Pulau Jawa, namun kekuasaan Inggris hanya bertahan beberapa tahun saja, selanjutnya Pulau Jawa dikuasai kembali o!eh Belanda, dan diangkatlah Raden Noto Kusumo putra dan Pangeran Sumenep Madura yang bergelar Raden Tumenggung Prawirodiningrat I (± th 1820) sebagai Residen Pertama Karesidenan Besuki.
Da!am masa Pemerintahannya banyak membantu pemerintahan Belanda dalam membangun Kabupaten Situbondo, antara-lain Pembangunan Dam Air Pintu Lima di Desa Kotakan Situbondo Setelah Raden Prawirodiningrat I meninggal-dunia sebagai penggantinya adalah kaden Prawirodiningrat II (± th 1830). Dalam masa Pemerintahan Raden Prawirodiningrat II banyak menghasilkan karya yang cukup menonjol antara-lain berdirinya Pabrik Gula di Kabupaten Situbondo, dimulai dan PG. Demaas, PG. Wringinanorn, PG. Panji dan PG. Olean, maka atas jasanya tersebut Pemerintah Belanda memberikan hadiah berupa “Kalung Emas Bandul Singa”. Perlu diketahui pula pada masa Pemerintahan Raden Prawirodiningrat II wilayahnya hingga Kabupaten Probolinggo, terbukti salah seorang putranya yang bernama Raden Suringrono menjadi Bupati Probolinggo.
Setelah Raden Prawirodiningrat II meninggal-dunia sebagai penggantinya adalah Raden Prawirodiningrat III (± th 1840). Tetapi dalam masa Pemerintahan Raden Prawirodiningrat III perkembangan Karesidenan Besuki kalah maju dibanding Kabupaten Situbondo, mungkin karena di Kabupaten Situbondo mempunyai beberapa pelabuhan yang cukup menunjang perkembangannya, yaitu antara-lain Pelabuhan Panarukan, Kalbut dan Jangkar, sehingga pada akhimya pusat pemerintahan berpindah ke Kabupaten Situbondo dengan Raden Tumenggung Aryo Soeryo Dipoetro diangkat sebagai Bupati Pertama Kabupaten Situbondo, dan wilayah Karesidenan Besuki dibagi menjadi 2 yaitu: Besuki termasuk Suboh ke arah Barat hingga Banyuglugur ikut wilayah Kabupaten Bondowoso dan Miandingan ke arah Timur hingga Tapen ikut wilayah Kabupaten Situbondo, hal ini terbukti dan logat bicara orang Besuki yang mirip dengan logat Bondowoso dan logat bicara orang Prajekan mirip dengan logat Situbondo.
Perubahan Nama Kabupaten Pada mulanya nama Kabupaten Situbondo adalah “Kabupaten Panarukan” dengan Ibukota Situbondo, sehingga dahulu pada masa Pemerintahan Belanda oleh Gubernur Jendral Daendels (± th 1808 - 1811) yang membangun jalan dengan kerja paksa sepanjang pantai utara Pulau Jawa dikenal dengan sehutan “Jalan Anyer - Panarukan” atau lebih dikenal lagi “Jalan Daendels”, kemudian seiring waktu berjalan barulah pada masa Pemerintahan Bupati Achmad Tahir (± th 1972) diubah menjadi Kabupaten Situbondo dengan Ibukota Situbondo, berdasarkan Peratunan Pemerintah RI Nomor. 28 / 1972 tentang Perubahan Nama dan Pemindahan Tempat Kedudukan Pemerintah Daerah Perlu diketahui pula bahwa Kediaman Bupati Situbondo pada masa lalu belumlah berada di lingkungan Pendopo Kabupaten namun masih menempati rumah pribadinya, baru pada masa Pemerintahan Bupati Raden Aryo Poestoko Pranowo (± th 1900 - 1924), dia memperbaiki Pendopo Kabupaten sekaligus membangun Kediaman Bupati dan Paviliun Ajudan Bupati hingga sekarang ini, kemudian pada masa Pemerintahan Bupati Drs. H. Mohamad Diaaman, Pemerintah Kabupaten Situbondo memperbaiki kembali Pendopo Kabupaten sejak tahun 2002.
Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan
Copyright © 2012 Isi KepalaTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.