Rasanya sudah agak lama ngga nulis di blog ini. Gatal tangan ini ingin menumpahkan isi kepala yang selama ini terpikir di benak dan hangus jadi sekedar pemikiran ngga berujung.Aku, dua hari ini semenjak lebih sering berkunjung ke tempat si rustam banyak disuguhi wacana wacana berat mengenai alam semesta dan theologi . Tidak jauh jauh dari konsep agama. Begitu banyak dalam hidup ku serba serbi mengenai agama yang orang orang meyakini nya dengan mati matian sebagai sesuatu yang melekat semenjak mereka dibawa ke dunia. Lalu setelah melihat cukup banyak dan menyimpulkan, aku kok jadi makin benci dengan hal hal religius yang ditampakkan. Semakin muak dengan kelakuan dan pemikiran orang orang. Bahkan dengan tidak malu malu mereka gemar berdebat memperdebatkan cara pandang seseorang dengan orang yang lain mengenai konsep ketuhanan. Padahal jadi tuhan aja nggak, tapi merasa sok paling tau. Maaf-mungkin terlalu frontal bahasa-nya, tapi ini lah sisi pemikiran terjujurku bahwa aku lama kelamaan semakin muak dengan agama. Semakin jengah semakin sakit melihat tingkah org org pongah merasa paling tau mengenai apa yang ditanam dalam hati. Apa gunanya. Debat berdebat dalam hal keyakinan meyakini adanya tuhan sang maha pencipta alam semesta-beserta isinya. Apa yang mereka coba buktikan. Apa yang mereka coba perdebatkan wong ya sama sama manusia. Kenapa ngga buka mata saja mempererat kesamaan ketimbang memperuncing perbedaan. Tidak adil rasanya kalo manusia saling menjatuhkan hanya demi sesuatu yang diyakininya dan tak sesuai dengan apa yang terdapat pada pemikiran seseorang. Mikir sampe ngantuk dan bener bener ngantuk, masih belum juga aku dapat jawaban kenapa orang orang lebih mencintai debat agama ketimbang aktivitas kolektif yang toleran yang fungsi sosialnya lebih tinggi daripada fungsi religius. Yang dicapai apa? Wong ya agama itu tidak diciptakan tuhan. Tuhan hanya menciptakan alam semesta, tuhan ngga nyuruh manusia untuk memeluk agama. Ada atau tidak ada agama tuhan sama sekali ngga bakal rugi. Jadi sekalipun seluruh umat manusia membangkang, tuhan sama sekali ngga bakal rugi. Lanjut. Tulisannya kepotong karena tertidur kemaren. Hari ini hari senin lanjut lagi tulisan begini. Fanatik agama. Aku kok kurang suka sama orang yang fanatik agama. Bagi seseorang yang fanatik terhadap agama tertentu, hal hal yang berkaitan dengan agamanya adalah benar sementara yang di luar agamanya itu salah. Orang fanatik agama cenderung rasis biasanya. Memandang orang lain yang ngga sama cara hidupnya sebagai orang yang salah dan patut dihukum. Fanatik seperti ini yang ngga tepat. Fanatisme identik dengan kebodohan. Dan kebodohan itu pangkal kehancuran katanya. Kita lihat saja fanatik dalam hal apapun. Agama, teknologi, sistem sosial, apapun itu. Ngga pernah punya banyak manfaat. Malah cenderung sibuk hujat menghujat hidupnya. Aku jijik lihat grup grup bertebaran yang judulnya debat agama ini versus agama ini. Kok merasa yang paling pintar soal agama. Mungkin pola pikirku ini mewakili satu diantara ribuan orang di dunia ini yang mungkin punya pikiran dan pandangan yang sama. Fanatik. Orang cenderung fanatik bila dia tumbuh dan tinggal di lingkungan yang minim toleransi. Makanya aku bersyukur jadi orang indonesia ini, meski orangnya banyak yang fanatik dan bodoh, tapi toleransi disini masih kental. Kebodohan itu memang diakui sebagai sisa dari perkembangan kebudayaan dan peradaban. Sebenernya terminologi bodoh dan kebodohan itu bukan sebagai sebuah aib atau kelemahan. Tapi sebagai proses, dari tidak tau menjadi tau, dari malu menjadi berani, dan ragu menjadi yakin. Bodoh itu temporer. Bagaimana dengan bodoh yang berlangsung dalam waktu yang lama? Kalo udah begitu sih kaitannya dengan watak. Watak ngga ingin maju. Watak terlalu berat dengan zona nyaman hidupnya. Terlalu berat keluar dari zona nyaman karena memang malas berbuat dan mengubah apapun. Fanatik. Aku melihat beberapa tahun ini memang banyak bermunculan bibit bibit fanatisme dengan sudut pandang yang kurang tepat. Aku katakan kurang tepat karena memang orientasi nya diletakkan pada pondasi yang arahnya melenceng dari tujuan awal. Misalnya agama didekati untuk dipelajari, diamalkan dan diajarkan. Tapi pada praktiknya dewasa ini agama malah jadi komoditi. Punya nilai ekonomis. Dijual di media massa dengan wajah wajah seolah minta dipuji. Padahal semua itu polesan. Tidak benar benar hadir dari panggilan hati. Yang seperti itu, parahnya lagi, dipercaya orang banyak sebagai pencerahan. Akhirnya orang orang tergelincir dalam sisi manusiawi si pensyiar tadi.

Setuju dengan anda... 👍👍👍
BalasHapus