Warung Rujak dan Wanita

sore ini sepulang dari om helmi aku beneer bener bisa menikmati jalanan yang lengang. Jalanansepi kota ini—yang emang pada dasarnya selalu sepi sih—benar benar menguasai diri dan keadaan. Naik motor jalan perlahan di sore yang menyenangkan ini menikmati pemandangan kota kecil ini di sana sini sekeliling hanya terlihat org org yang juga sama jengahnya denganku. Menikmati sore denganmalasnya. Malas beranjak.ahh .. hari minggu itu kenikmatan sekaligus siksaan. Bagaimana tidak? Kalo inget bahwa hari esoknya adalah hari senin, ah jadi malas rasanya … jenuh ketemu senin lagi … padahal senin ngga salah apa apa dengan kita tapi kenapa dia begitu dibenci dengan hamper semua orang … hamper semua orang benci senin sampe ada jargon people hate Monday hahahaha ngga inget betapa malasnya mereka melewatkan hari minggu yang penuh dengan kesempatan berleha leha di kasur empuk atau swinging di pepohonan dengan santainya. Aku merogoh saku celana pendek warna hitamku karena setahuku jalan yang aku lewati bakal melintasi warung rujak langgananku yang aku sangat suka bumbunya. Entah kenapa dari dulu aku begitu tergila gila dengan rujak. Rasanya ngga ada makanan lain di dunia ini yang berhak dipuji selain rujak. Rujak yang pedas entah itu pake cingur atau non cingur pokoknya judulnya rujak aja wah lidahku serasa gelisah … tapi begitu melintasi warung yang dimaksud… ciut nyali gara gara warungnya tutup terpaksa nahan keinginan dulu aku kaya org ngidam lama lama dikit dikit pengennya rujak. Satu hal yang menarik dalam penglihatanku bahwa perempuan paruh baya si penjual rujak sore ini terlihat duduk duduk di teras rumahnya dengan dandanan menor entah mau kemana mungkin mau kondangan. Dia gendong cucunya … wkwkwkwkw orang jaman sekarang ya … ngga tua ngga yang muda semuanya sama aja-apalagi yang namanya perempuan-tampilan itu selalu dapat prirotas nomor satu. Menor menorin … pokoknya tampilan displaynya it mendongkrak nilai jual. Hokum alam sih udah begit ngga yang tua ngga yang muda semua berlaku sama; tampilan menentukan pesanan wkwkwkwkw. Berdandan mungkin dalam seleksi alam sudah ada dalam gen tiap tiap wanita. Entah kelak aya bakal jago dandan juga atau ngga yang pasti wanita sih nalurinya sudah seperti itu. Wanita itu seakan jadi marketingnya seleksi alam mereka berlomba dandan mempercantik display agar mendongkrak rating sebagai missing link seleksi alam. Mereka dinobatkan begitu memang. Beda kan sama cowok. Cowok itu punya prinsip sederhana saja ngga menang tampilan mereka bekerja dengan cara yang sangat simple. Pria seperti aku banyak percaya bahwa kami dituntut oleh dorongan seleksi alam untuk menebarkan benih dimana saja sebagai upaya kelangsungan spesies kami. Jadi penentu lolos tidaknya manusia dalam seleksi alam adalah kaum pria!!! Yaaa !!!! kaum pria!!!! Persetan dengan kartini-sasi…. Eh tapi bentar lagi kan hari kartini ya … paling paling bentar lagi pas hari kartini aku posting soal kartini masa kini lagi … ahh jadi ironi deh … yaa hidup ini memang penuh dengan paradox yaa… wkwkwkwk bersabar saja .. namanya juga proses.

0 komentar:

Posting Komentar

Private thoughts only

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © 2012 Isi KepalaTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.