Hidup yang sederhana. Segar memberi manfaat-begitu kata iklan. Setiap orang pasti lah menginginkan hidupnya sederhana dan serba mudah namun terkadang kita mendapati kenyataan yang berbeda di setiap langkah yang kita tempuh dalam hidup. Hidup yang bahagia yang kita harapkan yang kita idamkan terkadang justru berbalik arah menyulitkan apa yang kita cita citakan. Seperti hidup dalam bingkai layar kaca yang besar. Yang terkadang membingungkan siapapun yang menontonnya. Emang sih . . . . Kalo mau dipikir pikir lagi, hidup itu cuma satu kali. Bentar lagi juga mati ngapain juga pake dipikir dalem dalem. Tapi justru dengan begitu pola pikir lurus dan polos kita bisa menelaah lebih dalam jalan untuk menemukan segala sesuatu yang hakiki. Pada dasarnya sih segala sesuatu yang hakiki itu cuma tuhan yang tau ukurannya . Kita cuma manusia yang bisa berusaha berupaya. Untuk mewujudkan apapun yang kita inginkan. Apapun yang ada dalam angan angan kita. Semudah itu dan sungguh sederhana. Kenapa tidak kita coba saja. Hidup tak tak ada ruginya kalo kita mencoba supaya kita tau ukuran mana yang salah ukuran mana yang lebih tepat. Ukuran siapa yang layak diandalkan dan ukuran siapa yang belum layak diandalkan. Simpel dan mudah pada dasarnya. Berbicara hidup seolah olah aku ini orang yang paling paham tentang kehidupan padahal hidupku sendiri ya juga ngga terlalu banyak kemajuan dan ngga terlalu banyak pencapaian juga. Lalu kena maksa-maksain untuk hidup ideal seperti yang orang orang kebanyakan inginkan. Tidak kah itu terlalu melelahkan untuk berupaya terlihat seperti kebohongan orang orang kebanyakan. Melelahkan menjadi seperti sempurna. Tak ada hal yang bener bener sempurna. Di dunia ini ngga terlalu banyak hal yang bisa diandalkan dijadikan pijakan untuk melompat ke tempat yang lebih tinggi. Manusia hanya berpegang pada hal hal yang bisa mendorong manusia itu sendiri untuk dapat mencapai segala sesuatu yang lebih maju. Dengan perspektif jeli dan lebih teliti. Hidup itu gampang aja kok. Ngga usah terlalu gamang menghadapi hidup yang penuh cobaan ini. Toh ujung ujung nya tujuan akhirnya juga sama saja kok. Untuk semua orang. Berlaku hal yang sama. Ngga peduli kamu itu siapa ngga peduli anak siapa. Ngga peduli juga km pernah berbuat apa untuk hidup kamu dan hidup kita ujung ujungnya kita bakal mati juga. Sebuah fase berangkat ke kehidupan yang lebih abadi begitu kata orang orang religius biasa menjelaskan dan wajah wajah anehnya. So jadi kenapa kita harus terjebak dalam penilaian penilaian? Bukankah semua orang punya kesempatan yang sama ?
0 komentar:
Posting Komentar
Private thoughts only