Defense Mechanism


Freud sendiri hanya mendiskripsikan tujuh mekanisme pertahanan, yakni identification, displacement, repression, fictation, regression, reaction, formation, dan projection. Pengikut-pengikutnya, khususnya Anna Freud menambahkan lebih dari 10 dinamika mekanisme pertahanan. Semua mekanisme pertahanan memiliki tiga persamaan cirri:
a.       Mekanisme pertahanan itu beroperasi pada tingkat tidak sadar
b.      Mekanisme pertahanan selalu menolak, memalsu, atau memutar balikan kenyataan
c.       Mekanisme pertahanan itu mengubah persepsi nyata seseorang, sehingga kecemasan menjadi kurang mengancam.
Menurut Freud, jarang ada orang memakai hanya satu mekanisme pertahanan untuk melindungi diri dari kecemasan. Umumnya orang memakai beberapa mekanisme pertahanan, baik secara bersama-sama atau secara bergantian sesuai dengan bentuk ancamannya. Mekanisme pertahanan yang paling banyak dipakai dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:
a.      Identifikasi (Identification)
Cara mereduksi tegangan dengan meniru (mengimitasi) atau mengidentifikasi diri dengan orang yang dianggap lebih berhasil memuaskan hasratnya disbanding dirinya. Jika yang ditiru itu sesuatu yang positif, secara khusus ini disebut Introyeksi (introjections) adalah proses pengembangkan superego dengan mengadopsi nilai-nilai orang tua. Mekanisme pertahanan identfikasi umumnya dipakai untuk tiga macam tujuan:
1)      Identifikasi merupakan cara orang dapat memperoleh kembali sesuatu (obyek) yang telah hilang.
2)      Identifikasi dipakai untuk mengatasi rasa takut
3)      Melalui identifikasi, orang memperoleh informasi baru dengan mencocokkan kenyataan dengan khayalan mental.

b.      Pemindahan/Reaksi Kompromi (Displacement/Reactions Compromise)
Manakala obyek kateksis asli yang dipilih oleh isting tidak dapat dicapai karena ada rintangan dari luar (social, alami) atau dari dalam (antikateksis), insting itu dapat dipres kembali ketidaksadaran atau ego menawarkan kateksis baru, yang berarti pemindahan energy dari obyek yang satu ke obyek yang lain, sampai ditemukan obyek yang dapat meredusi tegangan. Sumber dan tujuan dari insting selalu tetap, obyeknya berubah-ubah melalui displacement.  Proses mengganti obyek kateksis untuk meredakan tegangan adalah kompromi antara tuntutan insting id dengan realitas ego sehingga disebut juga reaksi kompromi, yakni sublimasi, subsitusi, dan kompensasi (sublimation, substitution, compensation).
1)      Sublimasi adalah kompromi yang menghasilkan prestasi budaya yang lebih tinggi, diterima masyarakat sebagai cultural kreatif.
2)      Substitusi adalah pemindahan atau kompromi dimana kepuasan yang diperoleh masih mirip dengan kepuasan aslinya.
3)      Kompensasi adalah kompromi dengan mengganti insting yang harus dipuaskan

c.       Represi (Repression)
Represi adalah proses ego memakai kekuatan anticathexes untuk menekan segala sesuatu (id, insting, ingatan, fikiran) yang dapat menimbulkan kecemasan keluar kesadaran. Contoh dinamika campuran antara represi dan pemindahan, sebagai berikut:
1)      Represi + displacement           : gadis yang takut mengekspresikan kemarahannya kepada orang tuanya menjadi berontak dan mengamuk kepada gurunya.
2)      Represi + symptom histerik : seorang pilot menjadi buta walaupun  secara fisiologik matanya sehat, sesudah pesawat yang dikemudikannya jatuh dan copilot teman baiknya meninggal.
3)      Represi + psychophysiological disorder : wanita yang mengalami migrain setiap menekan rasa marahnya, memilih menuruti orang lain alih-alih mengikuti kemauannya sendiri agar tidak perlu timbul rasa marah yang harus ditekan.
4)      Represi + fobia            : Pria yang takut dengan barang yang terbuat dari karet. Waktu semasa kecil dia pernah dihukum berat oleh ayahnya karena meletuskan balon karet hadiah adiknya. Karet kini menjadi pemicu ingatan event hukuman itu dan harapan masa kecil agar adiknya mati.
5)      Represi + Nomadisme : orang yang selalu berpindah tempat atau berubah-ubah interesnya, sebagai usaha melarikan diri dari suasana frustasi

d.      Fiksasi dan Regresi (Fixation and Regression)
Fiksasi adalah terheninya perkembangan normal pada tahap perkembangan tertentu karena perkembangan lanjutannya sangat sukar sehingga menimbulkan frustasi dan kecemasan yang terlalu kuat. Orang memilih tetap berhenti (fiksasi) pada tahap perkembangan tertentu dan menolak untuk bergerak maju , karena merasa puas dan aman di tahap itu.
Frustasi, kecemasan, dan pengalaman traumatic yang sangat kuat pada tahap perkembangan tertentu, dapat berakibat orang regresi, mundur ke tahap perkembangan terdahulu, di mana dia merasa puas di sana.
Perkembangan kepribadian yang normal berarti terus bergerak maju atau progresif. Munculnya dorongan yang menimbulkan kecemasan akan direspon dengan represi. Orang yang puas berada ditahap perkembangan tertentu, tidak mau progress disebut fiksasi. Progresi yang gagal membuat orang menarik diri atau regresi.

e.       Pembalikan (Reversal)
Mengubah status ego dari aktif menjadi pasif, mengubah keinginan perasaan dan impuls-impuls yang menimbulkan kecemasan menjadi ke arah diri sendiri, atau seperti reksi formasi dengan obyek yang spesifik.

f.       Projeksi (Projection)
Kecemasan realistic biasanya lebih mudah ditangani oleh ego dibandingkan kecemasan neurotic atau kecemasan moral. Karena itu, apabila sumber kecemasan dapat ditemukan di dunia luar dan bukan pada impuls-impuls primitive atau suara hatinya sendiri, kecemasan itu mudah diredakan. Projeksi adalah mekanisme mengubah kecemasan neurotic/moral menjadi kecemasan realistic, dengan cara melemparkan impuls-impuls internal yang mengancam dipindahkan ke obyek diluar, sehingga seolah-olah ancaman itu terprojeksi dari obyek eksternal kepada diri orang itu sendiri.

g.      Reaksi Agresi (Aggressive Reactions)
Ego memanfaatkan drive agresi untuk menyerang obyek yang menimbulkan frustasi. Menutupi kelemahan diri dengan menunjukan kekuatan drive agresinya, baik yang ditujukan kepada obyek yang asli, obyek pengganti, maupun ditujukan kepada diri sendiri. Ego membentuk antikateksi, dengan mempertentangkan insting-insting agar insting yang menjadi sumber tegangan frustasi dan anxiety tetap berada di bawah sadar. Ada lima macam reaksi agresi:
1)      Agresi primitive : siswa yang tidak lulus ujian, merusak sekolahnya
2)      Scapegoating    : Membanting piring karena marah
3)      Free-floating-anger : sasaran marah yang tidak jelas
4)      Suicide : rasa marah kepada diri sendiri sampai merusak diri/bunuh diri
5)      Turning around upon the self : gabungan antara agresi dan pemindahan

h.      Intelektualitas (Intelectualization)
Ada lima macam intelektualisasi:
a.       Rasionalisasi (rationalization) : menerima, puas dengan object cathexes dengan mengembangkan alasana rasional yang menyimpangkan fakta. Ada dua macam rasionalisasi:
1)      Sour-grape rationalization: menganggap kateksis obyek yang tidak dapat dicapai sebagai sesuatu yang jelek.
2)      Sweet-lemon rationalization: menganggap kateksis obyek yang dapat diperoleh sebagai yang terbaik.
b.      Isolasi (Isolation), mempertentangkan antara komponen afektif dengan kognitif, gejala neurosis obsesi kompulsi, di mana dorongan insting bertahan di kesadaran, tetapi tanpa perasaan puas/senang.
c.       Undoing, kecemasan dan dosa akibat kegiatan negative, ditutupi /dihilangkan dengan perbuatan positif penebus dosa dalam bentuk “tingkahlaku ritual”.
d.      Denial, menolak kenyataan, menolak stimulus/persepsi realistic yang tidak menyenangkan dengan menghilangkanatau mengganti persepsi itu dengan fantasi atau halusinasi. Denial menghilangkan “bahaya yang datang dari luar” dengan mengingkari.
e.       Menyaring perhatian dan penolakan

                          i.      Penolakan (Escaping-Avoiding)
Melarikan diri/ menghindar atau menolak stimulus eksternal secara fisik agar emosi yang tidak menenangkan tidak timbul. Menghindar dari ancaman dan menempatkan diri dibawah perlindungan patron.

j.        Pengingkaran (Negation)
Impuls-impuls yang direpres diekspresikan dalam bentuk yang negative, semacam denial terhadap impuls/drive, impuls id yang menimbulkan ancaman oleh ego diingkari dengan memikirkan hal itu tidak ada.
k.      Penahanan Diri (Ego Restriction)
Menolak usaha berprestasi, dengan menganggap situasi yang melibatkan usaha itu tidak ada, karena cemas kalau-kalau hasilnya buruk/negative. Mempertahankan self-esteem, dengan menolak aktivitas yang dapat dibandingkan hasilnya dengan hasil orang lain, memilih menjadi pengamat atau penilai.


0 komentar:

Posting Komentar

Private thoughts only

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © 2012 Isi KepalaTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.