Tumbuh dan besar di lingkungan pabrik gula bikin aku punya banyak cerita tentang pabrik gula. Pabrik gula di jawa ini banyak banget. Salah satunya adalah tempat aku tumbuh dan tinggal. Aku dibesarkan oleh keluarga karier. Bapak karyawan pabrik gula, ibu guru. Sejak lahir aku sudah tinggal di rumah dinas pabrik gula. Milik pt perkebunan nusantara. Dulu sih swasta tapi statusnya sekarang sudah di revitalisasi udah jadi badan usaha milik negara sekarang. Pabrik gula di indonesia rata rata peninggalan belanda. Rata rata diwariskan semenjak zaman kolonial belanda. Pabrik gula kebanyakan bangunannya tua dan mesin mesinnya rata rata udah ngga diproduksi lagi sekarang. Malah bisa jadi manufaktur mesin giling pabrik gulanya sekarang udah tutup di eropa sana. Pabrik gula tempat aku tinggal dibangun tahun 1881. Bahkan mbah ku pun belum lahir itu. Zaman segitu masih jauh dari kemerdekaan. Aku lahir tahun delapan empat. Begitu lahir aku sudah tinggal di lingkungan pabrik gula. Rumah dinas yang kami tempati jaraknya ngga jauh dari pabrik sekitar seratus meteran. Yaa namanya pabri yaa begitu itu lah. Suasananya angker. Apalagi nih kalo malem. Karyawan dan pekerja kan paling sore pulang-nya jam tiga sore. Ada juga yang lembur. Yang lembur paling maksimal pulangnya jam tujuh. Yaa jam tujuh malam. Pabrik gula yang aku tempati itu mungkin sama angkernya dengan pabrik gula pabrik gula lainnya di jawa. Selain arsitekturnya bangunan peninggalan belanda, juga onggokan mesin mesin sangat tua yang ngga terawat bikin bulu kuduk semakin merinding tiap melintas. Ceritanya begini suatu saat bapak diangkat jadi karyawan pimpinan. Rumah dinas kami pindah ke yang lebih besar. Tapi lokasinya masuk kompleks pabrik. Deket dengan pabrik gudang dan tempat mesin mesin yang tua dan ngga terawat. Model gaya gaya bangunannya juga ya ala ala belanda gitu. Ada yang bilang dibangun tahun 1902. Ada yang bilang dibangun beberapa tahun sebelum indonesia merdeka. Ada yg bilang baru dibangun semenjak presiden soekarno lengser. Macam macam versi-nya. Tapi yang jelas rumah itu memang sedikit mengerikan. Yaa bukan sedikit sih. Banyak malah. Bangunannya tua, kuno, tapi masih terawat sih. Kami dulu punya pak kebun. Kerjanya bagus sehingga rumah tua nan angker itu jauh terlihat lebih menawan. Setidaknya lebih baik dari rumah kosong yang ngga terawat lah. Tiap aku berangkat sekolah, harus melewati pohon angker. Namanya pohon wringin anom. Pohon jenis beringin yang tumbuh ratusan meter tinggi-nya. Konon katanya usia pabrik gula itu sendiri dengan usia si pohon masih lebih tua usia si pohon. Dan ngga pernah ditebang. Siapa juga mau tebang itu pohon, gede banget usia-nya ratusan tahun. Tapi rindang banget kalo pagi jadi tempat bernaung para pekerja pabrik yang istirahat sekedar melahap makann siang-nya. Ngga jauh dari pohon itu ada garasi lokomotif. Ya seperti kamu tau, lokomotif pabrik gula itu ya seperti itu lah. Sangat tua. Dan angker. Apalagi garasinya. Yang jarang dikunjungi orang. Jarang dijamah. Semenjak tinggal di rumah tua itu aku sering banget mimpi buruk. Mimpi macam macam soal betapa mengerikannya pabrik gula itu. Bersambung . . .


0 komentar:
Posting Komentar
Private thoughts only