Duo Denum

Duo Denum

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Kampung Langai badminton 1

aktivitas baru yang menjadi hobyy menyenangkan akhir akhir ini

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Ritchie Kotzen ooh

entah sudah berapa lama saya kenal nama ini ... awal saya mengetahui performanya adalah melalui sebuah video ketika saya masih kelas 2 SMU kira kira ... dia bikin sejenis lesson video dengan mauver dan teknik yang memukau ... sontak sejak saat itu mungkin hingga detik ini tehnik tehnik yang dia peragakan banyak saya adaptasi untuk keperluan penampilan saya baik di atas panggung di recording studio hingga dimanapun saya menyajikan penampilan .... intinya meski tak banyak audiense yang bisa paham dengan apa yang saya sajikan tetapi saya melihat dalam manuver saya yang banyak influence dari Kotzen ini saya melihat diri saya sesungguhnya ... mengenai apa dan siapa saya dan bagaimana saya beradaptasi dengan diri saya sendiri ./... tidak seperti cara cara musisi lainnya membawakan emosi mereka ... kotzen cenderung menyajikan apa yang di telinga saya dicap sebagai hal yang ultra elegan ... hal yang mudah saja memfascinasi orang lain dan tentu saja diri saya sendiri ... sepertinya saya telah menemukan jiwa permainan yang sesungguhnya tanpa meninggalkan platform awal dimana saya berangkat dalam fase fase ... bahwa sejatinya musik adalah cahaya yang menerangi benak ... benak dalam mencari apapun

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Fase Tiga Hari Ini Cukup

Objection (penolakan)
Pertanyaan mengenai penolakan dalam masyarakat Eropa sebagaimana dibedakan dari masyarakat Afrika mengemukakan permasalahan tentang penolakan tersebut misalnya penggunaan bunga. Sama halnya dengan gambar, lukisan dan teater, yang menjadi bagian dari kritik Plato terhadap pemaknaan kebudayaan. Kritik tersebut merupakan poin referensi untuk tradisi turun temurun dari sudut pandang alternatif tentang manifestasi dimana pengamat kontemporer menemui kesulitan dalam memahami pentingnya pengamat kalangan masyarakat lain gagal dalam memahaminya. Plato prihatin terhadap mimesis dimana sebagai dampaknya Plato menyanggah bahwa hal tersebut bukanlah perihal itu sendiri maupun yang dimaknainya. Bagaimana bisa? Yang saya coba kemukakan adalah bahwa situasi manusia itu sendiri adalah tergantung dari pemaknaan dan hal ini, baik secara linguistik, figuratif maupun teoretik tidak akan bisa menjadi apa yang pada dasarnya diartikan.
Mimesis merupakan sebuah konsep yang tidak tercakup dengan maksimal terutama oleh penulis penulis post-modern karena dihubung hubungkan, secara mekanis, terhadap reproduksi budaya, ‘meniru’ dalam pandangan Tarde dan terutama pada repetisi bahasa atau pada gambar. Oleh karena mimesis mewujudkan sebuah ideologi konservatif, menolak kreativitas. Plato, di sisi lain, melihat mimesis sebagai tatanan subversif, misalnya ketika orang meniru perilaku orang lain terutama aktor atau pemimpin. Aspek prinsip dari mimesis yang menarik perhatian say disini adalah pemaknaan dalam seni di dunia luar, terhadap eksistensinya sendiri, polemik ikonofobia, dalam prasangka anti-teatrikal atau oleh sikap anti-novelistik. Dalam konteks ini, sesuatu berganti melalui sebuah perantara berbeda, oleh karena itu kreativitas selalu dilibatkan. Seperti mimesis, ide utama pemaknaan mendapatkan sedikit perhatian dari Barthes sebagai sebuah instrumen penaklukan dalam tatanan simbol simbol, sebuah pandangan yang patut diacungi jempol mengenai bagaimana tatanan simbolis tersusun.
Kritik ini berhubungan dengan apa yang oleh Prendergast sebut dengan status pemaknaan yang tidak pasti, sebuah keadaan dimana secara permanen yang kita huni berhubungan dengan tatanan mimetik. Ada masalah umum mengenai mimesis. Beberapa orang suka ditiru, kecuali pada keadaan pembelajaran yang sangat spesifik. Namun imitasi tetaplah penting bagi pembelajaran; jika bukan sebuah aktivitas manusia secara esklusif, setidaknya yang terbatas pada antropoid, tidak ditemukan pada monyet. Tetapi secara lebih relevan, mimesis merupakan sebuah bentuk pemaknaan; ia bukanlah tindakan itu sendiri. Dari sudut pandang lain mungkin dilihat sebagai ketidaklaziman.
Dalam diskusi ini mimesis cenderung disamakan denga pemaknaan. Namun tendensi tersebut mungkin dapat dilihat sebagai pembeda yang penting. Dari satu sisi mimesis berhubungan dengan ‘mime’ yang oleh bangsa Roma dan Yunani diartikan sebagai drama yang lucu, dikarakterkan oleh mimikri dan pemaknaan konyol dari jenis jenis yang familiar. Definisi definisi tersebut menunjukkan bahwa ada bentuk yang masuk akal dari pemaknaan dan mime juga dilihat sebagai seni gestur, gerakan, dan lainnya sebagaimana yang membedakannya dengan kata-kata. Mimesis terkadang juga dipandang sebagai peniruan perilaku orang lain; oleh karena itu gestur maupun cara bicara, namun tidak pada penulisan, disebut mimetik. Penulisan menempati ‘urutan ketiga’, dimana cara bicara dan gesture pada dasarnya sama, tidak tercampuri. Akan tetapi dari sudut pandang lain, lisan maupun tertulis, mungkin terkesampingkan dari mimesis karena jarang ditiru; kecuali onomatopoeia, ia merupakan tanda. Pastinya, bahasa tertulis meniru alam hanya dengan cara tidak langsung, dimana gstur, patung, bahkan meniru suara seseorang dilakukan dengan cara langsung. Kata kata dapat mewakili lebih baik ketimbang mimik.
Keraguan yang sama mengenai status pemaknaan muncul dalam filosofi ilmiah. Dalam mendiskusikan realisme dan anti-realisme Ian Hacking mengatakan;
Dengan memperhatikan pengetahuan sebagai pemaknaan alam, kita tak tau bagaimana kita bisa keluar dari pemaknaan dan memahami dunia. Hal tersebut tertanam dalam idealisme. Di abad kita John Dewey secara berapi api mengenai teori pengetahuan yang mengobsesi filosofi barat. Jika kita Cuma penonton dalam teater kehidupan, bagaimana kita bisa tau yang nyata atau yang tidak nyata, yang hanya diperankan oleh aktor maupun hal yang nyata?
Dalam hal ini sikap Hacking terhadap pemaknaan adalah sangat jelas. Teori hanya memaknai belaka, ia bukanlah hal yang nyata. Dalam tingkatan lain, apa yang dimaknakan dalam sandiwara ada di dunia nyata. Akan tetapi ia betul betul memaknai hal yang sebenarnya yang kemudian mengemukakan polemik kebenaran, yang salah ataupun distorsi dari hal yang sebenarnya, polemik yang tidak hanya melibatkan hubungan teori kebenaran.
Pemaknaan yang jelas merupakan hal penting dalam komunikasi manusia. Oleh karenanya Hacking mencoba mengkarakterkan manusia bukan sebagai homo faber melainkan homo depictor. “manusia adalah pemberi makna, orang orang menyukai segala sesuatu, mereka membuat lukisan, meniru ayam berkotek, mencetak dari tanah liat, memahat patung, dan menempa kuningan. Pemaknaan bukanlah ide internal dari kekaisaran Perancis maupun Inggris, sebagaimana yang dipikirkan Kant dalam Vorstellung. Namun memang sebagaimana diterangkan di atas, Hacking merujuk kepada objek fisik bahwa dia membayangkan orang orang menyukai segala sesuatu sebelum mereka belajar berbicara. Memang tidak banyak bukti yang memperkuat statemen tersebut kecuali bahwa adalah mungkin bila seekor anjing, misalnya, memaknai sesuatu dalam mimpi, barangkali melakukannya secara visual. Manusia awal peradaban menggunakan linguistik di waktu bersamaan dalam pemaknaan gambar. Namun bahasa tentu saja jauh memperluas kemampuan kita akan pemaknaan, contohnya Hacking melihat teori fisik sebagai penyusunan yang kebenarannya belum mutlak melainkan rentetan pemaknaan instruktif. Pluralitas pemaknaan membawa skeptisme, keraguan dan berhubungan dengan penampilan dan realitas.
Skeptisme yang serius, menurut Hacking adalah pemaknaan tak terelakkan seandainya atom atom dan ruang kosong meliputi kenyataan, bagaimana kita bisa tahu? Inti keraguan selalu muncul bahkan semenjak Democritus memformulasi atom sebagaimana yang dicatat oleh Plato. Pertama, bagaimana kita menelisik versi tertentu dari impian Demokritus? Kedua, adanya kekhawatiran bahwa yang demikian hanyalah angan-angan; bahwa sejatinya tidak ada atom, tidak ada ruang kosong, hanyalah bebatuan. Ketiga, adanya keraguan bahwa kisahnya tidak sepenuhnya benar, bagaimana kita bisa menentukan pengetahuanmelainkan hanya kelalaian kontemplatif.
Hacking bertolak belakang dengan pernyataan pernyataan yang kita sebut dengan yang tidak bermakna ini, misalnya seperti ‘mesin ketik saya berada di atas meja’. Dalam hal tersebut kita bisa mengatakan benar atau salah, dimana pemaknaan melibatkan keraguan. Namun pernyataan seperti di atas tersebut adalah juga melibatkan pemaknaan (kata ‘mesin ketik’ mewakili sebuah mesin); ketika skeptisme dan keraguan terhadap hal yang sama tidak dilibatkan, hal tersebut juga dapat menjadi pertanyaan mengenai pemaknaan linguistik dan mengenai realitas kata. Saya sependapat bahwa hal ini adalah merupakan tatanan yang berbeda dan juga sangatlah penting dimana saya memulainya dengan mempertimbangkan pemaknaan piktorial (yaitu figuratif) dan sebagian besar yang dibahas melibatkan dimensi visual. Akan tetapi saya juga membahas mengenai satu aspek pemaknaan linguistik dalam mendiskusikan mitos dan novel.
Pemaknaan figuratif merupakan yang pada dasarnya oleh C.S. Pierce bedakan dalam tiga macam pemaknaan; yang merupakan kausal atau metonimik (bagian dari keseluruhan) dan konvensional (contohnya linguistik). Namu perbedaan demikian tidak membingungkan kita terhadap persamaan dan kenyataan bahwa aktor itu sendiri bisa jadi berubah dari mengobjeksi atau memerankan sesuatu untuk memperlakukan yang lain dengan cara yang sama. Sementara Judaisme tidak melarang penggambaran figuratif dari dewa dewa, kemudian beberapa orang berpendapat bahwa hal yang paling bernilai seni dari menafsirkan gambaran antromorfik secara literatur adalah merupakan pemujaan berhala itu sendiri. Tidak dijelaskan secara rinci dalam Injil apakah Tuhan memiliki gambaran, melalui kritikan Maimonides yang menolak kemungkinannya. Yang jelas bahwa segala upaya yang mencoba menghadirkan pemaknaan figuratif atas gambaran verbal adalah dilarang. Hal tersebut dapat mengakibatkan hilangnya keunikan; larangan tersebut tidak didasarkan pada ketakutan akan substitusi (mengambil pemaknaan untuk yang dimaknakan) melainkan hal tersebut bisa saja mengakibatkan pemaknaan yang keliru.
Dalam penyelidikan ini saya tertarik terhadap jenis jenis pemaknaan tertentu, yaitu, ikon figuratif, performa dramatis dan pusaka. Pada akhirnya saya memperluas diskusi pada mitos, narasi (dalam sense fiksi). Saya menggunakan istilah istilah dalam bahasa yang sederhana sebagaimana pemaknaan fisik baik dalam objek, atau tindakan. Pemaknaan konsep atau ide, Platonik atau yang lainnya merupakan batasan dari tema yang saya kemukakan.
Contoh mula dari dilema tersebut datang dari dunia klasik. Penulisan mengenai pengaruh seni pada religi di dunia klasik, Lane Fox tertarik melihat dalam era pahlawan epik, patung patung dan lukisan lukisan merupakan pengaruh fundamental dimana dalam dunia ketuhanan dibayangkan. Hal tersebut juga pasti menghadirkan keraguan, pertanyaan pertanyaan dan kontroversi seperti halnya yang kita temui dalam karya Plato. Jika kamu menggambarkan malaikat, hampir tak terelakkan bahwa orang lain akan terdorong untuk memberikan pertimbangan lain terhadap pemaknaan ini, mungkin lewat kritik, mungkin secara materi, mendorong mereka merefleksikan dalam ruang fisik yang ditempatinya dan berapa banyak “malaikat sesungguhnya” muncul dalam benak. Sebagaimana Lane Fox tuliskan bahwa ada hal konkrit dalam gesekan antara hal tersebut dengan ketidakjelasan, ketidakstabilan dari objek yang digambarkan, image verbal tanpa ikon.

Ada masalah khusus dalam banyak kelompok atau masyarakat dalam memaknai gambaran Ilahi karena bagaimanapun juga ia merupakan status immaterial; kualitasnya memperbesar kemungkinan terhadap pengamatan akan perbedaan antara kehadiran dan ketiadaan, antara gambaran atau perkataan dan rujukan. Dalam banyak masyarakat permasalahannya menjadi akut bahwa Tuhan yang menciptakan semua hal dan Tuhan tidak diciptakan. Sementara dalam banyak kasus keengganan untuk memaknai Sang Pencipta yang dalam benak mereka menumpuk segudang keraguan mengenai proses pemaknaannya secara keseluruhan, sekuler dan religius yang mana keduanya tidak dapat dipisahkan.

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Fase Dua

Absence (ketiadaan)
Saya ingin menerangkan tema ini dengan bagaimana awalnya saya menjadi tertarik terhadap ketiadaan pemaknaan figuratif. Antropologis Meyer Fortes menjelaskan mengenai Tallemsi dari Ghana Utara. Seseorang bisa menyanggahnya mengenai penggunaan terma “seni”. Ia kemungkinan merupakan konsep dari Eropa atau Eurasia yang kita pahami dalam konteks sekolah seni maupun museum seni. Tallensi membuat penilaian termasuk mereka yang kita sebut estetis dalam hubungannya terhadap objek. Jika kita pergi ke museum etnografik, Afrika sering didominasi oleh topeng Liberia yang menakjubkan, patung Dan, perunggu raksasa Benin atau terakota dari Nok. Hampir semua karya tersebut merupakan figuratif, terkadang merepresentasikan binatang, terkadang pula manusia maupun makhluk antromorfik. Dibandingkan dengan karya karya tersebut, Tallensi belum ada apa apanya secara virtual. Merupakan benar adanya beberapa jenis pemaknaan artistik lainnya; mereka tidak punya teater, seperti LoDagaa dan yang tinggal di sekitarnya. Namun LoDagaa mempunyai beberapa patung figuratif dari kayu. Sebuah perbedaan didapat dari distribusi mitos ketimbang mitologi.
Saya mencoba menjelaskan keadaan maupun ketiadaan sebagaimana kilas balik saya mengenai studi tentang penggunaan bunga di bagian dunia berbeda. Dari situlah saya menemukan alasan evolusioner mengapa tidak ada bunga domestik di Afrika. Bunga hanya ter-domestik-kan hanya dalam masyarakat yang memiliki era, yakni apa yang oleh ahli prehistoris Gordon Childe sebut dengan “Revolusi Urban” yang menciptakan agrikultur, sistem penulisan dan bermacam macam kerajinan.
Ketika proses evolusi ini membuka kemungkinan kemungkinan bukan berarti mereka dieksploitasi. Dalam era klasik Eropa Selatan memiliki budaya bunga yang kuat namun ditentang secara dramatis di masa awal Kristen. Disini kami memiliki bukti tidak hanya perbedaan antara budaya dalam ruang namun juga dalam suatu masyarakat pada waktu yang berbeda. Di Eropa, penolakan yang demikian itu dikaitkan dengan invasi barbarian (Celtic dan lainnya) dan diasosiasikan dengan kejatuhan ekonomi. Namun penolakan dalam penggunaan bunga dan item lain dianggap hal yang mengindikasikan kemewahan, hal yang berkaitan dengan kekuatan asing, yang dikehendaki aktornya yang memegang posisi hegemonik. Banyak pemuka agama Kristen mengutuk penggunaan bunga terutama pada bentuk mahkota pada bunga. Alasannya, pertama adalah mereka biasanya menggunakannya pada upacara pengorbanan Pagan. Yang kedua, mereka percaya bahwa Tuhan tidak membutuhkan pemberian. Ketiga, hal hal tersebut merupakan bagian dari budaya kemewahan, budaya konsumerism awal, penekanan status, hirarki dan hal yang tidak diperlukan, dalam kata lain mereka menyebutnya Puritan.
Selama berabad abad hal tersebut telah diubah dalam Kristen Eropa. Butuh waktu yang cukup lama untuk budaya penggunaan bunga agar berkembang dalam maraknya penolakan penolakan tersebut pada abad ke-16 dan ke-17 lebih khususnya pada Puritan. Dalam kata lain, penggunaan bunga ditentang oleh beberapa kalangan masyarakat dalam periode tertentu dalam sejarah mereka.
Menyikapi perbedaan spasial tersebut saya mengatakan sebagaimana Levi-Strauss nyatakan hal yang sama terhadap jamur bahwa beberapa budaya adalah floripobia dan beberapa diantaranya florifil. Namun implikasi yang tak terelakkan seperti karakteristik menjadikan fungsi ini jauh terkubur dalam mentalitas masyarakat tertentu dimana terkadang mereka menjadi florifil dan fungifobia di waktu yang bersamaan. Untuk menganggap fungsi tersebut sebagai bagian dari perilaku manusia yang quasi-permanen, struktur dasar tidak begitu berperan dalam aspek historis kebudayaan. Implikasinya merupaka quasi-genetic. Namun penggunaan bunga tidak terlalu mengakar pada gen kebudayaan, sekalipun fungsi tersebut muncul secara persisten dari masa ke masa.

Maka pertanyaan mendasarnya berubah dari waktu ke waktu mengapa masyarakat atau ritual berubah dari wujud budaya kuat menjadi lemah, penolakan apakah yang menjadi sentral terhadap eksistensi keseluruhan mereka? Contoh yang paling mengejutkan adalah yang terjadi di Eropa dan Yunani yang mendasari banyak kebudayaan dan tradisi intelektual. Adalah abbad kedelapan BCE (Before Common Era) yang melihat awal mula ekspansi Yunani, berkembangnya kota, majunya teknologi penulisan yang kita pahami sebagai yunani Klasik. Yang menjadi penting adalah tidak hanya kualitas melainkan juga kuantitas melalui bahasa tertulis. Khususnya lagi, Yunani dikenang dalam drama yang masih dipentaskan di barat setelah 2500 tahun, terkadang dalam bahasa aslinya, dan lebih banyak lagi dalam bahasa terjemahan. Yunani juga dikenang untuk gaya arsitekturnya yang turut membentuk barat pada gaya arsitektur bank-bank dan perkantoran-perkantoran untuk kuil kuil dan istana. Dan lagi, pada seni patungnya banyak yang menjadi bagian dari ruang sosial yang bertujuan menanamkan ekspresi budaya dalam superfasilitas. 

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Job Jaya

REPRESENTATION AND COGNITIVE CONTRADICTION

Saya tertarik terhadap resistansi atau ketiadaan pemaknaan, gambar, teater, benda purbakala, mitos, novel dan pemaknaan seks. Hal ini seperti pilihan acak dari keseluruhan kemungkinan beserta pada nuansanya. Namun ini termasuk beberapa sentral artistik dan bentuk bentuk religius dari pemaknaan (ikon, teater, novel) yang hadir dalam masyarakat tertentu dan tidak terdapat di masyarakat lainnya yang mendatangkan tanda tanya kepada saya tentang pemaknaan yang sangat alamiah. Saya tidak bermaksud untuk melingkupi keseluruhan pemaknaan dimana ambivalensi bisa timbul namun hal ini menggelitik rasa penasaran saya mengenai perlunya penjelasan secara umum. Saya sengaja mengesampingkan ranah tertentu mengenai penolakan, penekanan atau ketiadaan aktivitas aktivitas ini dalam masyarakat manapun dengan sebuah tanda tanya besar mengenai fitur yang telah menyebarluas ini menerangkan mengenai alam pemaknaan yang merupakan fitur sentral dalam hidup manusia. Apakah yang kita bicarakan ketika membahas tentang “representation”? pemaknaan adalah merupakan hal yang mendasar dalam komunikasi manusia untuk budaya manusia. Durkheim menyatakan bahwa pemaknaan kolektif merupakan perhatian utama dari para sosiologis dan antropologis. Seni adalah representatif demikian juga bahasa, misalnya pada kata “horse” untuk hewan kuda. Dia juga bisa berarti mimetik sebagaimana ‘pitter-patter’ meniru rintik hujan. Saya sangat peduli mengenai kategori pemaknaan artistik gambar, dalam lukisan dan patung, dan juga pada teater sebagaimana pembahasan yang lebih menyeluruh mengenai penyembahan berhala (yang mewakili figur seseorang) dan pemaknaan fiksi. Letertarikan saya akan fenomena fenomena ini terdapat pada dua aspek utama. Pertama, ketimpangan distribusinya dalam masyarakat pada waktu yang berbeda namun dalam masyarakat yang sama. Yang kedua, keberatan yang muncul baik perseorangan maupun khalayak umum. Saya berharap kedua aspek utama ini mengindikasikan hal yang memiliki inter-relasi.

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Jumat itu apa?

eh hari ini hari jumat ... hari baru datang lagi ,,, menjemukan seperti yang kemarin kemarin ... memang sudah semestinya ... pagi hari dibakar dengan rock and roll dan makanan setengah basi yang bikin muak .... lha kiprahnya disini seperti ap? sementara job translate masih menumpuk berpuluh puluh lembar menanti digarap diselesaikan ... di sisi lain isi kepala sudah mau tumpah rasanya mau meledak meletus seperti gunung berapi yang sedang marah berkecamuk .... dan hari ini hari jumat hari yang kata orang orang hari barokah ... goblok tuh orang orang ... kalian pikir hari itu cuma jumat? kalian pikir setiap hari itu bukan anugerah yang barokah??? ah ... lama lama diracuni rasisme ...

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Ya Sudah

Semua orang kan berhak bahagia? Ya yang begitu itu ya sudah, ngga apa apa. Toh kita punya kisah apa? Cuma semalam seranjang kan ? Giliranmu bahagia aku punya ruang melarang apa? Toh sebaik apapun kita, aku tetap harus memberi ruang untuk hidupmu kan ??

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Menggembirakan

sejenak mulai menggunakan isi kepala untuk berpikir mempertimbangkan banyak hal mengenai pilihan pilihan dalam hidup tentang apa yang sudah dan apa yang belum terlaksana. menelisik timeline kehidupan lagi lewat lorong lorong waktu imajiner belajar dari pengalaman pengalaman lama mengenai kehidupan yang sungguh berharga dan terlalu sayang untuk dilupakan begitu saja. hidup ini mudah dan sebentar saja, benak kita saja yang membuatnya terlihat seolah rumit, mata kita dijejali dengan pemandangan pemandangan  tidak cukup adil rasanya hidup di tengah perbandingan, kemauan orang orang untuk membanding bandingkan hal hal yang belum mereka ketahui sejatinya. bagaimanapun juga kita tetap harus sadar bahwa hidup itu tetaplah hidup. dan bagaimanapun dijalaninya hidup tetap akan selalu punya tujuan dengan upaya upaya. kita tak sekalipun mudah menyerah dengan keinginan walaupun memang banyak diantara kita yang masih dibutakan ambisi ambisi. lihatlah betapa hidup sederhana adalah cukup ideal dan menggembirakan. apa lah artinya pencapaian tanpa keadaan yang menggembirakan???

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Mengaktifan Kembali

setelah sekian lamanya tidak lagi pernah berkutat dengan tulisan rasanya rindu untuk kembali menorehkan sepatah dua patah kata di blog kecil yang tak seorangpun tau ini. sekian lama rindu aktivitas menulis kembali aku bangkitkan lagi hobby tak berbayar dngan mengeksplorasi kemerdekaan kata kata baik yang imajinatif maupun yang masih abstrak di awang awang. ingin menjadi manusia seutuhnya yang sesempurna mungkin dengan kemerdekaan berkata kata dan menuliskan apapun yang aku suka. dalam petang yang pengap dan penuh nyamuk ini mencoba kembali aku hidupkan lagi luwesnya gimmik kata kata lewat torehan dan cetusan ide satu demi satu kata. hari ii ... hari kedua di tahun ini merupakan hari yang penuh dengan perenungan perenungan ecil di tengah semaraknya sosial media membuat hari hariku cukup berisik dengan gaya hidup gaya hidup orang lain sementara aku hanyut larut dalam euforia orang orang.. sungguh aku rindu kegiatan menulis yang telah sekian tahun memudar dalam kepribadian ini ... menulis meramu kemerdekaan lewat senjata literasi

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Tonggos

Wis tonggos beca bece ae taek koyo seng penting pentingo ae. Menungso urip kok kakean gaya cuk! Guayane koyo dapurmu seng yak yak'o ae kuepet. Urip kakean cangkem polah kakean gaya ngunu arep maju ngimpi we su!! Nek ayu kuwi rapopo wong trah modelmu ae koyo telek kakean guaya cuk jancuk. Baliyo kono nang alas nggonmu urip. Urip nang jowo mung nambahi taek utekmu entut!! Tak pikir pinter pintere koyo ngopo ndadak TOEFL tak panut tiwas percoyo elmune jebule guoblog meleset kabeh telek untunge ra manut kowe. Manuto lak melu goblog koyo kowe aq su asu! Urip kakean gaya, wong ndompleng ragad ae lho.. Lonte te... Ngakune diprawani wong dho ngerti klakuanmu ae lho... Kepet pet
Matiyo ae kowe su! Ndak mbebani APBN !!

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Coretan Sabtu Malam

Hari ini adalah hari minggu dan seperti biasanya aku melewatkan malam ini dengan begadang bersama teman teman tanpa terpikir sedikitpun perasaan khawatir tentang apa yang akan terjadi hari esok. Sementara tanganku tengah sibuk memainkan game yang ada di laptop kesayangan di sisi lain otakku terpecah dengan kegelisahan tentang teguran teguran dan pertanda pertanda yang muncul meragukan intuisi yang tajam. Sebagaimana firasat membisikkan suara suara aku masih terjerat dengan keadaan malam yang jauh dari bising tetap hening seperti dunia tengah tertidur separuh aku masih memainkan peranan dalam sandiwara besar ini. Sebuah dunia dimana aku berdiri berlari dan berpikir seperti apa adanya. Tiga atau empat kali langkah yang ada akan selalu menghantarkanku pada rumah tempat aku pulang tempat dimana awal aku melangkahkan kaki dengan arah yang belum menentu. Malam in, tidak seperti malam malam yang lainnya aku melewatkannya dengan bayangan bayangan masa lalu, satu demi satu nampak tergambar jelas dalam bayangan tentang bagaimana aku melukiskan wajah wajah penuh dendam dan amarah. Ah sepertinya di kejauhan tengah terbersit horison horison kecil yang jadi acuan agar aku tak tersesat. Tetapi, nampak makin jauh makin kecil dan makin samar. Inilah tempat aku menuliskan keluh kesah menyandarkan batin yang lelah menunggu dengan jutaan bisikan dan suara suara hening. Aku tak berhenti menorehkan luka demi luka sedangkan aku sendiri tengah lelah menahan pedihnya ditinggalkan dunia. Akankah aku mengejar dunia sementara dunia bukanlah arah yang seharusnya aku tuju. Ataukah salah aku merasakan diriku berada di tengah tengah kehilangan seperti yang orang lain tak pernah membayangkannya sebelumnya. Dunia ini sebuah tempat yang penuh dengan orang orang sepertiku dan lambat laun dunia pun turut mengakuinya sebagai warisan dan wasiat yang kelak dunia akan tinggalkan untuk generasi generasi semacamku yang akan selalu menorehkan hal hal yang sama agar tertinggal pada prasasti prasasti yang akan selalu dikenang oleh orang orang, sementara aku masih terus berceloteh dalam tanah tanah peuburan yang dingin gelap sunyi sepi dn mengerikan. Seperti ruangan kosong yang tak berpenghuni yang tak terdapat satu pun tanda tanda kehidupan di dalamnya dunia yang selalu merindukan terang dari pijar pijar bukan hasil tangan tangan setan yang ta bernyawa menyiratkan bahwa Tuhan telah lama murka. Aku tak ingin... sama sekali tak ingin melihatnya sementara kemurkaan tergantung di wajahnya. Bukankah masih akan selalu ada pilihan setelah ini? Ataukah aku menunggu hal pada tempat yang salah. Hatiku tak berhenti menanyakan seperti hal nya yang ditanyakan oleh orang orang sebelum aku. Tak perlu dicerna tak perlu dipikirkan itulah sebuah pertanyaan yang tak pernah habis dan akan selalu muncul pertanyaan pertanyaan berikutnya. Ah sungguh lelah menunggu dunia, dunia yang tak pernah datang dengan sebenar benarnya keadaan aku masih terus terpikir bahwa inilah tempat lagi dimana aku mengingatnya kembali dan mengenang dari cara memandang dan berbicara, sebuah tempat dimana aku benar benar merasakan kekosongan yang sebelumnya tak pernah aku rasakan seperti ini pedihnya. Menduga dan bergumam, ah sampai dimana harusnya aku mencerna? Masihkah ada arah? Sementara harapan telah aku tebarkan ke seluruh penjuru, tinggal melangkah aku hanya menunggu ....


Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Senin

Hari ini hari senin lagi. Ah . Senin. Inget senin rasanya kaku bosen. Tapi nih ya aku sedikit punya perasaan berbeda tiap tau bahwa anak anak sudah menjelang liburan pasca selesai nya ujian nasional kemarin. Rasanya aku juga ikutan libur :) hehehe. Atau jangan jangan jiwaku masih jiwa jiwa anak sekolahan juga ya. Wkwkwk. Ngga ada yang tau. Aktivitas rutinitas di studio dilewatkan dengan hal hal membosankan. Bikin video, dengerin lagu, nonton film. Ya begitulah rutinitas kesepian sehari hari. Duit dan rejeki datang lewat sepi. Duit dan rejeki, eh salah, rejeki dan rutinitas. Rutinitas seharian sepertinya kaku. Eh tapi sudah beberapa lama ini kurang aktif di aktivitas blog lagi. Sekarang mulai gencar lagi posting di blog yaa mudah mudahan masih banyak lagi ide yang bakal gencar mengalir. Mudah mudahan rejeki dalam kesendirian masih mengalir lancar seperti hari hari belakangan ini. Mudah mudahan Allah kasih berkah. Berkah anak soleh? Ah bukan. Aku bukan anak soleh. Yang namanya berkah ya berkah aja. Dari tuhan, kita mah cuma ngarep aja. Hehehe. Yang penting sebanyak apapun berkah yg diterima ngga bikin kita jadi lupa daratan masih tau diri dan inget sesama. Iya kan ta ?


Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Ultah Ibu

Hari ini memang hari yang spesial. Selain hari buruh ada hal lain yang bikin hari ini sedikit berbeda. Jauh dari hiruk pikuk euforia orang orang yang mensuarakan hari buruh, hari ini adalah ulang tahun ibunda tercinta. Hari ini, 53 tahun yang lalu ibunda lahir ke dunia. Tidak banyak yang mengingat ulang tahunnya, kalo saja aku tak sering ngetik nomor induk pegawai dan nuptk untuk sertifikasinya mungkin aku juga tak akan pernah ingat ini hari ulang tahunnya. Tapi untuk seorang ibunda, ulang tahun seperti ini tak terlalu banyak berarti. Sama seperti hari hari lainnya, diisi dengan melayani keluarga, masak, nyuci dan beraktivitas. Berhubung ini hari buruh, ibunda menikmati hari liburnya dengan bersantai menonton tv di rumah. Tidak ada agenda spesial. Sama seperti hari hari lainnya, ulang tahun biasa. Perayaan pun tak ada. Hanya di televisi riuh dengan buruh turun ke jalanan menyuarakan kehendak dan keinginannya, tapi ibuku, jauh lebih mulia dari buruh. Ibuku, tak perlu turun ke jalan menyuarakan isi hatinya, dia tak punya apapun untuk dipendam. Hidupnya tenang dan tak punya beban. Hidupnya serasa lengkap berada di tengah tengah keluarga yang saling menjaga, berhubungan baik dengan kerabat dan saudara, tak pernah ada yang terlewatkan. Hari ini, hanya sebuah simbol. Satu dari ribuan hari hari lain selain hari ini , sebagai wujud rasa syukur seorang manusia seorang istri dan seorang ibu bahwa hidupnya dianugerahi berkah dan dikelilingi orang orang yang peduli. Keindahan berkumpul bersama keluarga, mengabdi dan menikmati kebersamaan. Selamat ulang tahun ibu, maafkan ananda belum bisa kasih kado spesial selain doa dan tulisan blog, agar ibu senantiasa sehat ceria dan optimis. Terimakasih

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Trombektomi

...
Deep Vena Trombosis (DVT) adalah Suatu kondisi dimana terbentuk bekuan darah dalam vena sekunder akibat inflamasi / trauma dinding vena atau karena obstruksi vena sebagian, yang mengakibatkan penyumbatan parsial atau total sehingga aliran darah terganggu (Doenges, 2000).

ETIOLOGI

Pada dasarnya penyebab utama DVT belum jelas, namun ada 3 faktor  yang dianggap penting dalam pembentukan bekuan darah, hal ini dihubungkan dengan :

statis aliran darah
abnormalitas dinding pembuluh darah
gangguan mekanisme pembekuan
Statis vena terjadi bila aliran darah melambat, seperti pada gagal jantung dan syock ; ketika vena berdilatasi, sebagai akibat terapi obat, dan bila kontraksi otot skeletal berkurang, seperti pada istirahat lama, paralysis ekstremitas atau anestesia. Tirah baring terbukti memperlambat aliran darah tungkai sebesar 50%. Kerusakan lapisan intima pembuluh darah menciptakan tempat pembentukan bekuan darah. Trauma langsung pada pembuluh darah, seperti pada fraktur atau dislokasi, penyakit vena dan iritasi bahan kimia terhadap vena, baik akibat obat atau larutan intra vena, semuanya dapat merusak vena. Kenaikan koagubilitas terjadi paling sering pada pasien dengan penghentian obat ani koagulan secara mendadak. Kontrasepsi oral dan sejumlah besar diskrasia dapat menyebabkan hiperkoagulabilitas.

PATOFISIOLOGI

DVT adalah peradangan pada dinding vena dan biasanya disertai pembentukan bekuan darah. Ketika pertama kali terjadi bekuan pada vena akibat statis atau hiperkoagulabilitas, tanpa disertai peradangan maka proses ini dinamakan flebotrombosis. Trombosis vena dapat terjadi pada semua vena, namun yang paling sering terjadi adalah pada vena ekstremitas . Gangguan ini dapat menyerang baik vena superficial maupun  vena dalam ungkai. Pada vena superficial, vena safena adalah yang paling sering terkena. Pada vena dalam tungkai, yang paling sering terkena adalah vena iliofemoral, popliteal dan betis.

Trombus vena tersusun atas agregat trombosit yang menempel pada dinding vena , disepanjang bangunan tambahan seperti ekor yang mengandung fibrin, sel darah putih dan sel darah merah. “Ekor “ dapat tumbuh membesar atau memanjang sesuai arah aliran darah akibat terbentuknya lapisan bekuan darah. Trombosis vena yang terus tumbuh ini sangat berbahaya karena sebagian bekuan dapat terlepas dan mengakibatkan oklusi emboli pada pembuluh darah paru. Fragmentasi thrombus dapat terjadi secara spontan karena bekuan secara alamiah bisa larut, atau dapat terjadi sehubungan dengan peningkatan tekanan vena, seperti saat berdiri tiba-tiba atau melakukan aktifitas otot setelah lama istirahat.

MANIFESTASI KLINIS

Vena dalam : obstruksi vena dalam tungkai menyebakan oedema dan pembengkakan ekstremitas karena aliran darah tersumbat. Tungkai yang terkena biasanya terasa lebih hangat dan vena superfisialnya lebih menojol. Nyeri tekan biasanya terjadi kemudian adalah sebagai akibat dari inflamasi dinding vena dan dapat dideteksi dengan palpasi lembut pada tungkai. Tanda homan (nyeri pada betis ketika kaki didorsoflesikan secara mendadak) tidak spesifik untuk trombosis vena dalam karena bisa ditimbulkan oleh berbagai kondisi nyeri pada betis. Pada beberapa kasus emboli paru merupakan tanda pertama trombosis vena dalam.

Vena superficial : trombosis vena superficial mengakibatkan nyeri atau nyeri tekan, kemerahan dan hangat pada daerah yang terkena. Resiko terjadinya fragmentasi thrombus menjadi emboli pada vena superficial sangat jarang karena thrombus dapat larut secara spontan. Jadi kondisi ini dapat ditangani di rumah dengan tirah baring, peninggian tungkai, analgesik dan obat anti radang.

EVALUASI DIAGNOSTIK

Teknik non infasif :

Ultrasonografi Doppler :Dilakukan dengan cara meletakkan probe Doppler diatas vena yang tersumbat.
Pletismografi Impedansi :Digunakan untuk mengukur perbedaan volume darah dalam vena. Manset tekanan darah dipasang pada paha pasien dan dikembungkan secukupnya (sekitar 50 – 60 mmHg) sampai aliran arteri berhenti. Kemudian gunakan eletroda betis untuk mengukur tahanan elektris yang terjadi akibat perubahan volume darah dalam vena. Apabila terdapat trombosis vena dalam, peningkatan volume vena yang normalnya terjadi akibat terperangkapnya darah dibawah ikatan manset akan lebih rendah dari yang diharapkan. Hasil false-positif dapat terjadi akibat dari berbagai factor yang menyebabkan vasokontriksi, peninggian tekanan vena, penurunan curah jantung atau kompresi eksternal pada vena. False-negatif dapat terjadi akibat adanya trombosis lama, menimbulkan sirkulasi kolateral yang adekuat atau dari flebitis superficial.
Pencitraan vena ganda :Digunakan untuk mendapatkan informasi anatomis selain untuk mengkaji parameter fisiologis.
Teknik Infasif :Teknik infasif berdasar pada injeksi media kontras ke system vena yang kemudian berikatan dengan elemen structural thrombus.
PENATALAKSANAAN

Tujuan penanganan medis DVT adalah mencegah perkembangan dan pecahnya thrombus beserta risikonya yaitu embolisme paru dan mencegah tromboemboli kambuhan. Terapi antikoagulasi dapat mencapai kedua tujuan tersebut. Heparin yang diberikan selama 10-12 hari dengan infus intermitten intravena atau infus berkelanjutan dapat mencegah berkembangnya bekuan darah dan tumbuhnya bekuan baru. Dosis pengobatan diatur dengan memantau waktu tromboplastin partial (PTT). Empat sampai 7 hari sebelum terapi heparin intravena berakhir, pasien mulai diberikan antikoagulan oral. Pasien mendapat antikoagulan oral selama 3 bulan atau lebih untuk pencegahan jangka panjang.

Tidak seperti heparin, pada 50% pasien, terapi trombolitik, menyebabkan bekuan mengalami dekompensasi da larut. Terapi trombolitik diberikan dalam 3 hari pertama setelah oklusi akut, dengan pemberian streptokinase, mokinase atau activator plasminogen jenis jaringan. Kelebihan terapi litik adalah tetap utuhnya katup vena dan mengurangi insidens sindrompasca flebotik dan insufisiensi vena kronis. Namun, terapi trombolitik mengakibatkan insidens perdarahan sekitar tiga kali lipat disbanding heparin. PTT, waktu protrombin, hemoglobin, hematokrit, hitung trombosit dan tingkat fibrinogen pasien harus sering dipantau. Diperlukan observasi yang ketat untuk mendeteksi adanya perdarahan. Apabila terjadi perdarahan, dan tidak dapat dihentikan, maka bahan trombolitik harus dihentikan.

Penataksanaan Bedah. Pembedahan trombosis vena dalam (DVT) diperlukan bila : ada kontraindikasi terapi antikoagulan atau trombolitik, ada bahaya emboli paru yang jelas dan aliran darah vena sangat terganggu yang dapat mengakibatkan kerusakan permanen pada ekstremitas. Trombektomi (pengangkatan trombosis) merupakan penanganan pilihan bila diperlukan pembedahan. Filter vena kava harus dipasang pada saat dilakukan trombektomi, untuk menangkap emboli besar dan mencegah emboli paru.

Penatalaksanaan Keperawatan. Tirah baring, peninggian ekstremitas yang terkena, stoking elastik dan analgesik untuk mengurangi nyeri adalah tambahan terapi DVT. Biasanya diperlukan tirah baring 5 – 7 hari setelah terjadi DVT. Waktu ini kurang lebih sama dengan waktu yang diperlukan thrombus untuk melekat pada dinding vena, sehingga menghindari terjadinya emboli. Ketika pasien mulai berjalan, harus dipakai stoking elastik. Berjalan-jalan akan lebih baik daripada berdiri atau duduk lama-lama. Latihan ditempat tidur, seperti dorsofleksi kaki melawan papan kaki, juga dianjurkan. Kompres hangat dan lembab pada ekstremitas yang terkena dapat mengurangi ketidaknyamanan sehubungan dengan DVT. Analgesik ringan untuk mengontrol nyeri, sesuai resep akan menambah rasa nyaman.

PROSES KEPERAWATAN

PENGKAJIAN

Aktifitas / Istirahat
Gejala :    Tindakan yang memerlukan duduk atau berdiri lama

Imobilitas lama (contoh ; trauma orotpedik, tirah baring yang lama, paralysis, kondisi kecacatan)

Nyeri karena aktifitas / berdiri lama

Lemah / kelemahan pada kaki yang sakit

Tanda :    Kelemahan umum atau ekstremitas

Sirkulasi
Gejala : Riwayat trombosis vena sebelumnya, adanya varises

Adanya factor pencetus lain , contoh : hipertensi (karena kehamilan), DM, penyakit katup jantung

Tanda : Tachicardi, penurunan nadi perifer pada ekstremitas yang sakit

Varises dan atau pengerasan, gelembung / ikatan vena (thrombus)

Warna kulit / suhu pada ekstremitas yang sakit ; pucat, dingin, oedema, kemerahan, hangat sepanjang vena

Tanda human positif

Makanan / Cairan
Tanda : Turgor kulit buruk, membran mukosa kering (dehidrasi, pencetus untuk hiperkoagulasi)

Kegemukan (pencetus untuk statis dan tahanan vena pelvis)

Oedema pada kaki yang sakit (tergantung lokasi)

Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Berdenut, nyeri tekan, makin nyeri bila berdiri atau bergerak

Tanda:  Melindungi ekstremitas kaki yang sakiy

Keamanan
Gejala : Riwayat cedera langsung / tidak langsung pada ekstremitas atau vena (contoh : fraktur, bedah ortopedik, kelahiran dengan tekanan kepala bayi lama pada vena pelvic, terapi intra vena)

Adanya keganasan (khususnya pancreas, paru, system GI)

Tanda:  Demam, menggigil

Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : Penggunaan kontrasepsi / estrogen oral, adanya terapi antikoagulan (pencetus hiperkoagulasi)

Kambuh atau kurang teratasinya episode tromboflebitik sebelumnya

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Gangguan perfusi jaringan perifer b.d penurunan aliran darah / statis vena (obstruksi vena sebagian / penuh ), ditandai dengan : oedema jaringan, penurunan nadi perifer, pengisian kapiler, pucat, eritema

Hasil yang diharapkan :

-          Menunjukkan perbaikan perfusi yang dibuktikan oleh adanya nadi perifer / sama, warna kulit dan suhu normal, tidak ada odema.

-          Peningkatan perilaku / tindakan yang meningkatkan perfusi jaringa

-          Menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktifitas

Intervensi Keperawatan :

-          Observasi ekstremitas, warna kulit, dan perubahan suhu juga oedema

-          Kaji ekstremitas, palpasi tegangan jaringan local, regangan kulit

-          Kaji tanda  human

-          Tingkatkan tirah baring selama fase akut

-          Tinggikan kaki bila ditempat tidur atau duduk, secara periodic tinggikan kaki dan telapak kaki diatas tinggi jantung

-          Lakukan latihan aktif dan pasif sementara di tempat tidur. Bantu melakukan ambulasi secara bertahap.

-          Peringatkan pasien untuk menghindari menyilang kaki atau hiperfleksi lutut (posisi duduk dengan kaki menggantung atau berbaring dengan posisi menyilang)

-          Anjurkan pasien untuk menghindari pijatan / urut pada ekstremitas yang sakit

-          Dorong latihan nafas dalam

-          Tingkatkan pemasukan cairan sampai sedikitnya 2000 ml/hari dalam toleransi jantung

-          Kolaborasi : pemberian kompres hangat/basah atau panas pada ekstremitas yang sakit ; dan antikoagulan

-          Pantau pemeriksaan laboratorium : masa protrombin (PT), masa tromboplastin partial (PTT), masa tromboplastin teraktifasi partial (APTT),; darah lengkap

-          Berikan dukungan kaus kaki elastik setelah fase akut, hati-hati untuk menghindari efek tornikuet

-          Siapkan intervensi bedah bila diindikasikan



Nyeri b.d penurunan sirkulasi arteri dan oksigenasi jaringan dengan produksi / akumulasi asam laktat pada jaringan atau inflamasi, ditandai dengan ; pasien mengatakan nyeri, hati-hati pada kaki yang sakit, gelisah dan perilaku distraksi.

Hasil yang diharapkan :

Nyeri hilang / terkontrol, menunjukkan tindakan rileks, mampu tidur / istirahat dan meningkatkan aktifitas

Intervensi Keperawatan :

-          Kaji derajat nyeri, palpasi kaki dengan hati-hati

-          Pertahankan tirah baring selama fase akut

-          Tinggikan ektremitas yang sakit

-          Berikan ayunan kaki

-          Dorong pasien untuk sering mengubah posisi

-          Pantau tanda vital : catat peningkatan suhu

-          Kolaborasi : analgesik, antipiretik, pemberian kompres panas pada ekstremitas



Kurang pengetahuan tentang kondisi, program pengobatan b.d kurang terpajan, kesalan interpretasi, tidak mengenal sumber informasi, kurang mengingat , ditandai dengan : minta informasi, pernyataan kesalahan konsep, tidak tepat dalam mengikuti instruksi, terjadinya komplikasi yang dapat dicegah.

Hasil yang diharapkan :

-          Menyatakan pemahaman proses penyakit, programpengobatan dan pembaasan

-          Berpartisipasi dalam proses belajar

-          Mengidentifikasi tanda dan gejala yang memerlukan evaluasi medis

-          Melakukan prosedur dengan benar dan menjelaskan alsan tindakan

Intervensi Keperawatan :

-          Kaji ulang patofisiologi kondisi dan tanda/gejala, kemungkinan komplikasi

-          Jelaskan tujuan pembatasan aktifitas dan kebutuhan keseimbangan aktifitas / tidur

-          Adakan latihan yang tepat

-          Selesaikan masalah factor pencetus yang mungkin ada, contoh : tindakan yang memerlukan berdiri /duduk lama, kegemukan, kontrasepsi oral, imobilisasi, dll

-          Identifikasi pencegahan keamanan, contoh : penggunaan sikat gigi, pencukur jenggot, dll

-          Kaji ulang kemungkinan interaksi obat dan tekankan perlunya membaca label kandungan obat yang mungkin obat tersebut dijual bebas

-          Identifikasi efek obat antikoagulan

-          Tekankan pentingnya pemeriksaan lab.

-          Dorong menggunakan kartu / gelang identifikasi

-          Anjurkan perawatan kulit ekstremitas bawah

-          Laporkan adanya lesi

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth (1997), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol 2, EGC, Jakarta

Marilyn E. Doenges, (1993), Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta

Sarwono, dr, ( 1997), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 3, Jilid I, FKUI, Jakarta.

Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Ironi Punya Istri

Wah dingin. Beberapa hari ini kota ini isinya hujan air dan basah semua. Hujan mulu isinya. Sampe lupa mau nulis. Blog jadi terbengkalai. Beberapa hari belakangan ini kota kecil ini diguyur hujan dengan elegan. Artinya basah semua seperti lagu pohon dan kebun basah semua. Mudah mudahan hujan yang turun ini hujan berkah bukan bencana. Ya kalo emang bencana ya disegerakan lah maksudnya penderitaannya disegerakan supaya cepet berlalu hehehe. Kan emang iya. Semalam pulang dari rustam jam satu pagi, pagi ini baru bangun dari peraduan jam setengah delapan pagi. Wah akhir akhir ini memang cenderung pemalas aku. Kok bisa . Ya bisa karena aktivitas hari hari isinya cuma begadang begadang dan begadang lagi. Begadang jangan begadang kalo tiada kopi-nya begitu kata lagu dangdut. Ya daripada di rumah menghadap kesana kemari ya isinya dinding mending kumpul sama teman teman begadang main kartu ngobrol sambil cerita cerita. Yang penting kan ngga narkoba. Ngga mabuk mabukan. Ngga judi. Ngga main perempuan. Dimainin perempuan aja. Aaiih . Labil. Wkwkwk. Ngga sih. Kalo agenda begadang yang positif ya harusnya begitulah. Untungnya pergaulan aku baik baik saja. Maksudnya ngga ada teman yang punya kecenderungan mengajak ke arah yang merusak. Paling paling nonton bokep di handphone. Dan itu pun bosen banget. Bokep ya begitu begitu aja. Nonton nonton mulu, mending praktik nya. Rustam angga budi firman, semuanya udah berkeluarga, rasanya nonton nonton begituan udah ngga menarik. Wong punya istri masing masing. Aku meskipun single begini setidaknya yaa sudah tau lah rasanya. Ya gitu gitu aja. Ngga menarik. Begadang lebih diisi dengan aktivitas menghibur. Ya iya lah wong dari pagi kerja sampe sore. Malam nya berhak lagi mengisi kejenuhan dengan sesuatu yang dinamis. Masa mau kerja terus. Stress lama lama. Sekali sekali boleh lah refreshing. Meski cuma nongkrong main kartu nyanyi nyanyi sambil diiringi hujan dan petir menggelegar. Hahaha. Yaa kapan lagi mumpung masih sempat. Kan mumpung masih single. Besok kelak kalo sudah berkeluarga mana bisa beginian lagi. Boro boro. Mau keluar aja dipantau. Harus dapat izin istri. Ngga diizinin ya jangan coba coba kalo ngga pengen jatah ranjang distop dua bulan. Ngga ada toleransi. Pernikahan itu seperti lapas. Lembaga pemasyarakatan. Memasyarakatkan dan termasyarakatkan. Sama kya punya istri. Istri seperti sipir . Kita mau ngapain kemana mana digeledah. Diawasi. Istri itu ngga kemana mana tapi punya mata dimana mana . Punya telinga dimana mana. Jangan bayangkan kalo perempuan ngalah. Idiiih kalo istri marah udah deh kita kaum lelaki cari aman, kalo ngga pengen menderita sepanjang sisa hidup. Bener deh. Pernikahan itu katanya jembatan kebahagiaan . Itu cuma kata pastur. Cuma kata kyai. Cuma ada di novel dan sinetron. Pernikahan itu, akhir hidup. Titik. Jadi kamu kamu ini kaum lelaki yang masih single yang Akan menikah, selagi kamu masih bener bener belum menikah, udah deh nikmati baik baik masa lajang kamu. Bener deh. Aku udah pengalaman. Ntar kelak besok kalo kamu udah menikah bener, udah deh, katakan selamat tinggal dengan dunia pergaulan kamu. Ucapkan selamat datang di era kegelapan sepanjang sisa hidup kamu. Hahaha. Apalagi yang mau punya anak. Waduh. Itu . . . Cobaan berat. Hahaha. Khususnya buat para kaum lelaki yang jantan dan berwibawa, kaya aku gini nih hehehe, kalo inget masa lajang masih muda itu rasanya pengen nangis. Huuu huuu huuu. Masih muda mau ngapain aja mau kemana aja mau sampe jam berapa aja, bisa! Apalagi nih anak kost. Yang namanya anak kost. Waduh udah deh. Ngga ada matinya. Kost ku. Makin malem makin rame. Makin terang makin pagi makin sepi tanda tanda kehidupan. Seperti kost mati. Tapi kalo malem, apalagi notabene penghuninya lajang dan lajang semuanya, waduh, yang namanya sound sistem, udah kya klub. Party mulu man! Hahaha. Tapi. Itu dulu. Itu dulu banget. Zaman hidup kami belum terjamah makhluk yang namanya istri. Semenjak istri hadir, it ends ! Selesai. Hahaha. Udah deh jadi buat kamu kaum lelaki yang mau selamat, kalo sudah punya istri, cari aman. Cari aman aja. Kalo mau hidup kamu lebih lama lagi, cari aman . Ngeri deh pokoknya. Wkwkwk. Pengalaman pribadi. Untungnya aku sekarang bujangan lagi. Hehehe. Jadi free lagi. Bujangan tapi jangan bajingan. Kalo bisa sih. Kalo ngga bisa . . . Yaa diupayakan. Kalo masih ngga bisa . . . . Yaa tanyakan saja sama iwan fals :) wkwkwk


Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Fanatisme

Rasanya sudah agak lama ngga nulis di blog ini. Gatal tangan ini ingin menumpahkan isi kepala yang selama ini terpikir di benak dan hangus jadi sekedar pemikiran ngga berujung.Aku, dua hari ini semenjak lebih sering berkunjung ke tempat si rustam banyak disuguhi wacana wacana berat mengenai alam semesta dan theologi . Tidak jauh jauh dari konsep agama. Begitu banyak dalam hidup ku serba serbi mengenai agama yang orang orang meyakini nya dengan mati matian sebagai sesuatu yang melekat semenjak mereka dibawa ke dunia. Lalu setelah melihat cukup banyak dan menyimpulkan, aku kok jadi makin benci dengan hal hal religius yang ditampakkan. Semakin muak dengan kelakuan dan pemikiran orang orang. Bahkan dengan tidak malu malu mereka gemar berdebat memperdebatkan cara pandang seseorang dengan orang yang lain mengenai konsep ketuhanan. Padahal jadi tuhan aja nggak, tapi merasa sok paling tau. Maaf-mungkin terlalu frontal bahasa-nya, tapi ini lah sisi pemikiran terjujurku bahwa aku lama kelamaan semakin muak dengan agama. Semakin jengah semakin sakit melihat tingkah org org pongah merasa paling tau mengenai apa yang ditanam dalam hati. Apa gunanya. Debat berdebat dalam hal keyakinan meyakini adanya tuhan sang maha pencipta alam semesta-beserta isinya. Apa yang mereka coba buktikan. Apa yang mereka coba perdebatkan wong ya sama sama manusia. Kenapa ngga buka mata saja mempererat kesamaan ketimbang memperuncing perbedaan. Tidak adil rasanya kalo manusia saling menjatuhkan hanya demi sesuatu yang diyakininya dan tak sesuai dengan apa yang terdapat pada pemikiran seseorang. Mikir sampe ngantuk dan bener bener ngantuk, masih belum juga aku dapat jawaban kenapa orang orang lebih mencintai debat agama ketimbang aktivitas kolektif yang toleran yang fungsi sosialnya lebih tinggi daripada fungsi religius. Yang dicapai apa? Wong ya agama itu tidak diciptakan tuhan. Tuhan hanya menciptakan alam semesta, tuhan ngga nyuruh manusia untuk memeluk agama. Ada atau tidak ada agama tuhan sama sekali ngga bakal rugi. Jadi sekalipun seluruh umat manusia membangkang, tuhan sama sekali ngga bakal rugi. Lanjut. Tulisannya kepotong karena tertidur kemaren. Hari ini hari senin lanjut lagi tulisan begini. Fanatik agama. Aku kok kurang suka sama orang yang fanatik agama. Bagi seseorang yang fanatik terhadap agama tertentu, hal hal yang berkaitan dengan agamanya adalah benar sementara yang di luar agamanya itu salah. Orang fanatik agama cenderung rasis biasanya. Memandang orang lain yang ngga sama cara hidupnya sebagai orang yang salah dan patut dihukum. Fanatik seperti ini yang ngga tepat. Fanatisme identik dengan kebodohan. Dan kebodohan itu pangkal kehancuran katanya. Kita lihat saja fanatik dalam hal apapun. Agama, teknologi, sistem sosial, apapun itu. Ngga pernah punya banyak manfaat. Malah cenderung sibuk hujat menghujat hidupnya. Aku jijik lihat grup grup bertebaran yang judulnya debat agama ini versus agama ini. Kok merasa yang paling pintar soal agama. Mungkin pola pikirku ini mewakili satu diantara ribuan orang di dunia ini yang mungkin punya pikiran dan pandangan yang sama. Fanatik. Orang cenderung fanatik bila dia tumbuh dan tinggal di lingkungan yang minim toleransi. Makanya aku bersyukur jadi orang indonesia ini, meski orangnya banyak yang fanatik dan bodoh, tapi toleransi disini masih kental. Kebodohan itu memang diakui sebagai sisa dari perkembangan kebudayaan dan peradaban. Sebenernya terminologi bodoh dan kebodohan itu bukan sebagai sebuah aib atau kelemahan. Tapi sebagai proses, dari tidak tau menjadi tau, dari malu menjadi berani, dan ragu menjadi yakin. Bodoh itu temporer. Bagaimana dengan bodoh yang berlangsung dalam waktu yang lama? Kalo udah begitu sih kaitannya dengan watak. Watak ngga ingin maju. Watak terlalu berat dengan zona nyaman hidupnya. Terlalu berat keluar dari zona nyaman karena memang malas berbuat dan mengubah apapun. Fanatik. Aku melihat beberapa tahun ini memang banyak bermunculan bibit bibit fanatisme dengan sudut pandang yang kurang tepat. Aku katakan kurang tepat karena memang orientasi nya diletakkan pada pondasi yang arahnya melenceng dari tujuan awal. Misalnya agama didekati untuk dipelajari, diamalkan dan diajarkan. Tapi pada praktiknya dewasa ini agama malah jadi komoditi. Punya nilai ekonomis. Dijual di media massa dengan wajah wajah seolah minta dipuji. Padahal semua itu polesan. Tidak benar benar hadir dari panggilan hati. Yang seperti itu, parahnya lagi, dipercaya orang banyak sebagai pencerahan. Akhirnya orang orang tergelincir dalam sisi manusiawi si pensyiar tadi.


Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Masih SMP

Wanita wanita di studio hari ini kok cenderung narsis ya. Foto diri sendiri pake senyum senyum. Yaa cakep lah lumayan. Tapi narsis nya itu lho. Kalo se-level ikutan kelas modelling yaa boleh lah. Mungkin foto foto selfie itu dia bakal upload ke sosial media-nya. Atau sekedar jadi foto profil black berry messengernya . Ada satu cewe. Namanya melly. Mungkin kelas dua, atau tiga, smp di kota ini. Tubuhnya mungil tapi semampai. Kelas modelling cherrys agency dari jember. Kebetulan latihan materi casual kelas modelling di studio hari ini. Siang hingga sore ini. Pas waktunya time out, dengan setelan hot pants, baju casual tank top dan sepatu high heels nya dia jongkok diantara pot bunga dan tembok cat biru dengan menjulurkan pose tangan jari damai khas nya anak anak sekarang. Senyum ke arah kamera. Dan, jepreet. Masuk deh di memory handphone-nya. Entah bakal dia upload kemana aja, bukan urusanku . Tapi sedari awal dia pasang pasang badan pose kanan kiri cembung nungging senyum manyun sampe meringis aku amati dari kejauhan di dalam studio. Ah. Emang bener ya. Wanita sekarang cepat sekali tumbuh. Pantat anak seumur dia yang harusnya masih kosong melompong sekarang sudah berisi seperti tante tante beranak tiga. Walah . Pake tato di punggungnya. Entah gambar serangga atau bendera somalia wkwkwk entahlah. Pokoknya potongannya khas anak modelling. Gila. Ini kan anak smp . Handphonenya udah produk apel kerowak logonya. Wah. Barangkali dia udah kerja sendiri. Atau bapaknya juragan yakuza yang banyak duitnya. Hahaha ngga apa lah. Toh kan punya dia sendiri. Ngga minta sama aku. Lanjut, ada kurang lebih lima belas model tadi yang ikut kelas materi casual di studio. Dididik instruktur dari cherrys agency jember, melenggang mulus di sanggar. Kurang lebih lima belasan orang. Ngga cewek semua sih. Yang cowok kurang lebih ada tiga atau empat orang. Ada yg masih anak anak, ada yg masih sekolah. Aiih ada yang melambai . Hii . Tapi ngga apa lah . Hanya karena dia melambai bukan berarti aku lebih baik dari dia. Suasana studio siang hari ini cukup semarak lah. Aku nungguin sambil bbm-an dan tidur tiduran di studio sebelah. Sesekali karena bosan, main drum. Itung itung buang jenuh. Lumayan menghibur hati. Kapan lagi, ya kan . Hehehe.


Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Bakso

Sudah dua hari ngga nulis blog ini. Ngga nyampah dua hari itu rasanya seperti ada yang kurang. Ada yang mengganjal kalo kita dua hari ngga menuliskan apapun di blog. Blog sampahan sampahan begini ini memang agak ngga penting juga keberadaannya tapi setelah ditinggalkan itu kok kya nya ada yang kurang dalam satu hari. Mulai. Bercerita tentang pengalaman hari ini. Pengalaman yang terjadi dalam satu hari ini yang dianggap menarik untuk dijadikan sampahan. Hari ini hari jumat. Seperti biasanya memang waktunya untuk kerja karena konon katanya hari hari menjelang weekend emang lagi rame rame-nya rejeki lalu lalang. Sebenernya pas berangkat dari rumah perut isinya penuh. Perut cukup kenyang diisi makanan sejak pagi. Emang sejak pagi di rumah ngga ngapa ngapain sengaja cuma nonton tv dan tidur karena aku pikir masih terlalu pagi untuk bingung mikirin orang orang. Kerjaannya cuma malas malasan makann dan tidur. Menjelang siang, mulai beranjak beraktivitas. Jenuh kalo kudu di rumah mulu. Pas berangkat dari rumah di jalan kok ada penjual cilok alias penthol kalo orang sini bilang mah. Atau cimol kalo orang sidoarjo bilang. Tapi kalo secara indonesia-sentris orang orang mengenalnya dengan bakso saja. Oke deh sepakat. Sebut saja bakso. Biar gampang. Aku berangkat dari rumah, menuju studio. Ngga jauh dari rumah kira kira sepuluh menit di tengah perjalanan ngeliat penjual bakso lagi duduk manis dikerumuni anak anak smp yang baru pulang sekolah. Aku yang sudah bangkotan ini turut mengantre beli :) hahaha. Padahal sebenernya malu sih. Cuma ya kadung berhenti dari motor kalo ngga jadi beli kan ngga enak. Gengsi juga ntar dikira kemana mana bawa motor parlente juga, ngga tau nya beli bakso pelit amat :) biasanya orang sekarang kan gitu. Hehehe. Akhirnya antre lah aku diantara cewe cewe yang patut nya manggil aku dengan sebutan om itu. Saat tiba giliran, aku bilang seperti biasa, lima ribu jadiin dua bungkus. Eh ternyata si abang bakso dengernya lima ribu dua bungkus. Berhubung di dompet ngga ada duit lima ribu, jadi aku bayar pake duit sepuluh ribu. Ternyata pas kata dia. Walah . Tekor ini ceritanya. Wong minta nya lima ribu dijadiin dua bungkus malah dilayani lima ribuan dua bungkus. Halah . Mana bakso-nya ngga enak lagi. Alamat, kudu menghabiskan bulatan tepung tepung itu. Ya sudah ngga apa apa. Itung itung sedekah. Eh lupa. Kalo sedekah ngga boleh pamer. Ya sudah anggap saja jiwa pengampun ku hadir disaat itu. Wkwkwk. Kalo berbuat kebajikan sih ngga perlu disebut sebut. Ntar ngga berkah. Yang dicari kan faedah dan berkah to? Iya yaa harusnya begitu. Tapi masalahnya tidak berhenti di situ. Masalahnya adalah kumpulin duit itu ngga jadi jadi kalo tiap hari untuk bakso atau jajan mulu. Aku nih ngga ubahnya seperti anak taman kanak kanak. Jajan mulu sukanya. Duit habis habis di jajan. Ini itu pengen beli mulu. Penyakit apa yaa itu namanya. Mungkin hanya wanita yang faham hal hal begitu mungkin ya :)


Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More

Asal Mula

Berdasarkan Legenda Pangeran Situbondo, nama Kabupaten Situbondo berasal dan nama Pangeran Situbondo atau Pangeran Aryo Gajah Situbondo, dimana sepengetahuan masyarakat Situbondo bahwa Pangeran Situbondo tidak pernah menampakkan hal tersebut dikarenakan keberadaannya di Kabupaten Situbondo kemungkinan sudah dalam keadaan meninggal dunia akibat kekalahan pertarungannya dengan Joko Jumput, sehingga hanya ditandai dengan ditemukannya sebuah ‘odheng’ (ikat kepala). ‘odheng’ Pangeran Situbondo yang ditemukan di wilayah Kelurahan Patokan dan sekarang dijadikan Ibukota Kabupaten Situbondo.
Sedangkan menurut pemeo yang berkembang di masyarakat, arti kata SITUBONDO berasal dan kata: SITI = tanah dan BANDO = ikat , ha! tersebut dikaitkan dengan suatu keyakinan bahwa orang pendatang akan diikat untuk menetap di tanah Situbondo, kenyataan ini mendekati kebenaran banyak orang pendatang yang akhirnya menetap di Kabupaten Situbondo. Legenda Pangeran Situbondo Pengeran Situbondo atau Pengeran Aryo Gajah Situbondo besaral dan Madura, pada suatu ketika dia ingin meminang Putni Adipati Suroboyo yang terkenal cantik, maka datanglah Pangeran Situbondo ke Surabaya untuk melamar Putri Adipati Suroboyo, namun sayang keinginan Pangeran Situbondo sebenarnya ditolak oleh Adipati Suroboyo, akan tetapi penolakannya tidak secara terus-terang hanya diberi persyaratan untuk membabat hutan di sebelah Timur Surabaya, padahal persyaratan tersebut hanyalah suatu alasan yang maksudnya untuk mengulur-ulur waktu saja, sambil merencanakan siasat bagaimana caranya dapat menyingkirkan Pangeran Situbondo. Kesempatan Adipati Suroboyo menjalankan rencananya terbuka ketika keponakannya yang bernama Joko Taruno dari Kediri, karena rupanya Joko Taruno juga bermaksud menyunting putrinya dan Adipati Suroboyo tidak keberatan namun dengan syarat Joko Taruno harus mengalahkan Pangeran Situbondo terlebih dahulu.
Terdorong keinginannya untuk menyunting sang putri, maka berangkatlah Joko Taruno ke hutan untuk menantang Pangeran Situbondo, namun sayang Joko Taruno kalah dalam pertarungan tetapi kekalahannya tidak sampai terbunuh, sehingga Joko Taruno masih sempat mengadakan sayembara bahwa “barang siapa bisa mengalahkan Pangeran Situbondo akan mendapatkan hadiah separuh kekayaannya”. Mendengar sayembara tersebut datanglah Joko Jumput putra Mbok Rondo Prabankenco untuk mencoba maka ditantanglah Pangeran Situbondo oleh Joko Jumput, dan ternyata dalam pertarungan tersebut dimenangkan Joko Jumput, sedangkan Pangeran Situbondo tertendang jauh ke arah Timur hingga sampai di daerah Kabupaten Situbondo ditandai dengan ditemukannya sebuah ‘odheng’ (ikat kepala) Pangeran Situbondo, yang tepatnya ditemukan di wilayah Kelurahan Patokan yang sekarang menjadi Ibukota Kabupaten Situbondo.
Selanjutnya kembali ke Surabaya dimana di hadapan Adipati Suroboyo kemenangan Joko Jumput atas Pangeran Situbondo diakui oleh Joko Taruno sebagai kemenangannya, narnun Adipati Suroboyo tidak begitu saja mempercayainya, maka untuk membuktikannya disuruhlah keduanya bertarung untuk menentukan siapa yang menjadi pemenang sesungguhnya. Akhirnya pada saat pertarungan terjadi Joko Taruno tertimpa kutukan menjadi patung “Joko Dolog” akibat kebohongannya. Sejarah Kota Situbondo Sejarah Kabupaten Situbondo tidak terlepas dan sejarah Karesidenan Besuki, sehingga kita perlu mengkaji terlebih dahulu sejarah Karesidenan Besuki. Yang membabat Karesidenan Besuki pertama kali adalah Ki Pateh Abs (± th 1700) selanjutnya dipasrahkan kepada Tumenggung Joyo Lelono.
Karena pada saat itu juga Belanda sudah menguasai Pulau Jawa (± th 1743) terutama di daerah pesisir termasuk pula Karesidenan Besuki dan dengan segala tipu-dayanya, maka pada akhirnya Tumenggung Joyo Lebono tidak berdaya hingga Karesidenan Besuki dikuasai sepenuhnya oleh Belanda. Pada rnasanya (± th 1798) Pemerintahan Belanda pernah kekurangan keuangan untuk rnembiayai Pemerintahannya, sehingga Pulau Jawa pernah dikontrakkan kepada orang China, kemudian datanglah Raffles (± th 1811 - 1816) dan Inggris yang mengganti kekuasaan Belanda dan menebus Pulau Jawa, namun kekuasaan Inggris hanya bertahan beberapa tahun saja, selanjutnya Pulau Jawa dikuasai kembali o!eh Belanda, dan diangkatlah Raden Noto Kusumo putra dan Pangeran Sumenep Madura yang bergelar Raden Tumenggung Prawirodiningrat I (± th 1820) sebagai Residen Pertama Karesidenan Besuki.
Da!am masa Pemerintahannya banyak membantu pemerintahan Belanda dalam membangun Kabupaten Situbondo, antara-lain Pembangunan Dam Air Pintu Lima di Desa Kotakan Situbondo Setelah Raden Prawirodiningrat I meninggal-dunia sebagai penggantinya adalah kaden Prawirodiningrat II (± th 1830). Dalam masa Pemerintahan Raden Prawirodiningrat II banyak menghasilkan karya yang cukup menonjol antara-lain berdirinya Pabrik Gula di Kabupaten Situbondo, dimulai dan PG. Demaas, PG. Wringinanorn, PG. Panji dan PG. Olean, maka atas jasanya tersebut Pemerintah Belanda memberikan hadiah berupa “Kalung Emas Bandul Singa”. Perlu diketahui pula pada masa Pemerintahan Raden Prawirodiningrat II wilayahnya hingga Kabupaten Probolinggo, terbukti salah seorang putranya yang bernama Raden Suringrono menjadi Bupati Probolinggo.
Setelah Raden Prawirodiningrat II meninggal-dunia sebagai penggantinya adalah Raden Prawirodiningrat III (± th 1840). Tetapi dalam masa Pemerintahan Raden Prawirodiningrat III perkembangan Karesidenan Besuki kalah maju dibanding Kabupaten Situbondo, mungkin karena di Kabupaten Situbondo mempunyai beberapa pelabuhan yang cukup menunjang perkembangannya, yaitu antara-lain  Pelabuhan Panarukan, Kalbut dan Jangkar, sehingga pada akhimya pusat pemerintahan berpindah ke Kabupaten Situbondo dengan Raden Tumenggung Aryo Soeryo Dipoetro diangkat sebagai Bupati Pertama Kabupaten Situbondo, dan wilayah Karesidenan Besuki dibagi menjadi 2 yaitu: Besuki termasuk Suboh ke arah Barat hingga Banyuglugur ikut wilayah Kabupaten Bondowoso dan Miandingan ke arah Timur hingga Tapen ikut wilayah Kabupaten Situbondo, hal ini terbukti dan logat bicara orang Besuki yang mirip dengan logat Bondowoso dan logat bicara orang Prajekan mirip dengan logat Situbondo.
Perubahan Nama Kabupaten Pada mulanya nama Kabupaten Situbondo adalah “Kabupaten Panarukan” dengan Ibukota Situbondo, sehingga dahulu pada masa Pemerintahan Belanda oleh Gubernur Jendral Daendels (± th 1808 - 1811) yang membangun jalan dengan kerja paksa sepanjang pantai utara Pulau Jawa dikenal dengan sehutan “Jalan Anyer - Panarukan” atau lebih dikenal lagi “Jalan Daendels”, kemudian seiring waktu berjalan barulah pada masa Pemerintahan Bupati Achmad Tahir (± th 1972) diubah menjadi Kabupaten Situbondo dengan Ibukota Situbondo, berdasarkan Peratunan Pemerintah RI Nomor. 28 / 1972 tentang Perubahan Nama dan Pemindahan Tempat Kedudukan Pemerintah Daerah Perlu diketahui pula bahwa Kediaman Bupati Situbondo pada masa lalu belumlah berada di lingkungan Pendopo Kabupaten namun masih menempati rumah pribadinya, baru pada masa Pemerintahan Bupati Raden Aryo Poestoko Pranowo (± th 1900 - 1924), dia memperbaiki Pendopo Kabupaten sekaligus membangun Kediaman Bupati dan Paviliun Ajudan Bupati hingga sekarang ini, kemudian pada masa Pemerintahan Bupati Drs. H. Mohamad Diaaman, Pemerintah Kabupaten Situbondo memperbaiki kembali Pendopo Kabupaten sejak tahun 2002.


Posted by
Dedi Andrianto Kurniawan

More
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © 2012 Isi KepalaTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.