Mulai.
Mau mencoba menggambarkan hal paling berkesan dan paling menyentuh dalam fitrah manusiawi; cinta. Semua makhluk, yang hidup. Yang diberi nyawa. Dianugerahi cinta tentu saja dalam wujud dan bentuk yang berbeda beda. Ada yang wujudnya sangat nyata dan konkrit. Ada juga yang wujudnya hanya bisa diartikan hati nurani. Hati nurani juga bagian dari semuanya. Punya peranan kecil untuk pencapaian yang besar. Cinta-bahasanya lebih lembut lagi seperti yang biasanya orang orang biasa mensuarakan, cinta. Cinta. Cinta. Cinta. Banyak terdengar dimana mana. Banyak disebutkan dimana mana. Banyak dituliskan bahkan diungkapkan dimana mana. Di taman kota, di kamar, di pantai, di bukit, di toilet, bahkan di kebun binatang! Cinta itu general. Luas maknanya. Luas mengartikannya. Luas pula menterjemahkannya ke dalam simbol penafsiran yang mudah diterima kesadaran, dan mudah dicerna sebagai komponen kehidupan. Cinta, dalam hal ini adalah apa yang terjadi dan dialami manusia, terhadap sesama manusia, oleh manusia itu sendiri misalnya. Yang lebih spesifik, apa yang dirasakan sepasang manusia berlawanan jenis. Pria terhadap wanita. Wanita terhadap pria. Beberapa diantara pria terhadap pria, atau wanita terhadap wanita. Luas. Misalnya adikk dan kakakk. Atau ibunda terhadap ibundanya. Atau bahkan yang homo seksual, tapi kali ini ngga ingin membahas hal menjijikkan seperti itu. Lebih spesifik lagi, cinta, dari lelaki, terhadap wanita, yang ingin didampinginya melewatkan sisa hidup bersama sama. Aiih mulai drama deh bahasanya. Tapi ya memang benar. Pria mengungkapkan ketertarikannya atau hanya untuk sekedar menunjukkan dia betapa pedulinya, adalah dengan cara cara yang kadang ngga bisa diterima oleh akal. Pria, makhluk paling independen dengan logika yang rasional dan konon kabarnya kokoh tak tertandingi-semen kali? Pria, lelaki, cowok-kata bahasa abg mah, lebih memiliki cara yang unik untuk menunjukkan kepada pasangannya betapa ia sungguh peduli. Tapi biasanya dengan cara menunjukkan hal yang berlawanan. Misalnya, saat pria benar benar ingin melihat pasangannya bahagia ceria dan bebas dari duka lara, justru dengan cara menegaskan sikapnya. Dengan menyadarkan bahwa pasangannya harus bisa mandiri, bisa tegar untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Harus bisa menentukan sikap. Kadang wanita salah memahami apa yang dilakukan pria sebagai sikap selfish, tapi justru dengan cara itulah jalan terbaik agar wanita tau cara paling rasional untuk menjadikan dirinya lebih kuat melewatkan proses seleksi alam yang ketat. Wanita, tidak terlalu banyak menggunakan rasional, perasaan mereka lebih mendominasi. Insting mereka lebih kuat ketimbang logika. Karena mereka dihadapkan pada fitur alam yang menekan mereka agar selalu siap jadi pelayan evolusi. Wanita-dalam cinta-ditempatkan sebagai objek. Objek yang dikagumi dan patut diperjuangkan. Tapi kenyataannya akan jauh berbeda bila pria-sang subjek-mendapati kenyataan yang berbeda seperti apa yang diperjuangkannya. Pria akan selalu rela memperjuangkan semua hal untuk wanita yang dipikirnya selalu mendampinginya. Jadi pria dalam benaknya tertanam kenyataan bahwa wanita yang layak adalah wanita yang nyata. Wanita yang benar benar ada. Kenyataan demikian sangat diyakini dengan erat dalam benak setiap pria. Makanya, kalo pria mendapati kenyataan dalam realita sangat berbeda dari kenyataan dalam dogma benaknya, maka pria tersebut akan mencetuskan pola pikir sangat represif. Kebencian. Benci terhadap hal hal yang menjungkirbalikkan kenyataan dalam benaknya terhadap kenyataan dalam realita yang sesungguhnya. Pria akan tak henti hentinya menanamkan pikiran berkebalikan bahwa wanita yang sudah memutus realita adalah wanita yang patut dibenci. Sementara lewat sudut pandang yang lain, wanita merasa apapun yang dilakukannya selalu menempati posisi tawar. Selalu terdapat ruang toleransi yang cukup besar dari sang pasangan. Bahwa wanita berpikir hal tersebut adalah yang dapat menjadikan pembenaran tanpa memandang imbas nyata dari apa yang wanita pikirkan dan wanita perbuat. Di titik inilah kebuntuan pria-wanita mulai muncul. Satu sisi pria sebagai subjek merasa selalu ada yang tersisa untuk diperjuangkan. Sementara di sisi lain, wanita menempatkan dirinya sebagai titik toleran yang tidak bisa diganggu gugat. Dari sini lah terkadang pria memunculkan alternatif lain untuk menyamakan kenyataan dalam benaknya dengan kenyataan pada realita yang sesungguhnya. Alternatif yang terpikir oleh pria sebagai subjek terkadang sangat variatif. Bermacam macam caranya. Ada yang bisa diterima, tidak sedikit pula yang tidak bisa diterima. Terkadang pria memunculkan sudut pandang sekunder pada benaknya bahwa wanita itu tak hanya satu. Banyak yang bisa diajak berbagi atau mencari alternatif yang lebih nyata. Tetap tidak pada wanita. Mereka makhluk yang konsisten terhadap sudut pandangnya. Lebih konsisten ketimbang rasio pria, wanita selalu menempatkan sudut pandang tertentu terhadap satu subjek yang sama. Tidak mudah mengubahnya. Tapi-disini ada missing link yang terlewatkan. Pada dasarnya pria, akan selalu mampu mengembalikan sudut pandang awalnya saat realita dalam benaknya dan kenyataan awal sudah dapat disesuaikan. Disinilah muncul kebijaksanaan, bahwa selalu ada jalan yang baru. Tergantung sudut pandangnya sudah mati atau belum. Pria, dan wanita, diberikan identifikasi yang sama . Bersambung.
Pembanding
Diberdayakan oleh Blogger.

Sudah biasa dibenci, ga kaget aku.
BalasHapusPria juga ga cuma satu, banyak yg lebih bisa menghargai.
Korelasinya????
HapusGa ada.
HapusGa ada.
HapusKorelasinya???????
BalasHapus